The Book Thief - Brian Percivial

 

Judul: The Book Thief
Sutradara: Brian Percivial
Penulis: Michael Petroni
Pemain: Geoffry Rush, Emily Watson, Sophie Nelisse
Produksi:  Fox 2000 Pictures
Tanggal Rilis: Oktober 2013 (Mill Valley Film Festival), 27 November (Amerika Serikat)
Durasi: 125 Menit
Bahasa: Inggris

Jika dalam suatu kolektif pencurian buku masih terjadi, maka "kebudayaan" itu masih diperjuangkan. Bagaimana tidak? Seseorang kadang mencuri buku hanya sekadar untuk memenuhi kelaparan rohani. Saya jarang menemukan mereka yang mencuri buku untuk dijual lagi. Mungkin agak susah untuk menilai tindakan pencurian ini, apakah menyalahi norma atau malah sebaliknya? Karena lazimnya sebuah tindakan pencurian dilatarbelakangi oleh motif ekonomi, yakni untuk memenuhi perut yang lapar—ebenarnya tindakan pencurian buku juga disebabkan oleh ekonomi, yakni tidak terjangkaunya harga buku. Akan tetapi, soal pencurian buku ini tidak sesederhana itu. Di sini aya tidak hendak mengamini tindakan pencurian buku atau malah mencoba membenarkannya dengan “jubah” kebudayaan atau –isme-isme lainnya. Kali ini saya hendak mengulas sebuah film yang mengangkat tindak “pencurian buku” saat dunia Perang Dunia II tengah berkecamuk di Jerman. Kisah pencurian ini dibalut dengan sudut pandang kemanusiaan—saat pembakaran buku besar-besaran dilakukan oleh pemerintahan fasis Jerman atas perintah Adolf Hitler.

The Book Thief  yang diadaptasi dari buku Markus Zusak dengan judul yang sama mencoba mengangkat kisah kemanusiaan selama Perang Dunia II dengan sudut pandang yang segar. Film ini diawali dengan sebuah narasi panjang narator yang berkisah mengenai hal-ihwal kematian—ia yang tengah berbicara adalah kematian itu sendiri. Film ini berfokus pada anak bernama Liesel Meminger. Kisahnya bermula ketika ibunya merasa harus melindungi kedua anaknya dari ancaman Hitler, karena keterlibatannya di partai komunis akan membahayakan nyawa anak-anaknya. Liesel bersama adiknya akan dititipkan kepada kawan kepercayaan ibunya, pasutri Hans Hubermann dan Rosa Hubermann. Di tengah perjalanan, adiknya meninggal, dan dimakamkan. Ketika prosesi pemakaman, buku pegangan tentang penggalian kubur The Gravedigger’s Handbook milik si penggali kubur terjatuh. Di sinilah awal mula kebiasaan mencuri buku Liesel. Ia mengambil buku itu untuk dibaca.



Liesel yang ternyata tidak bisa membaca dirundung oleh teman-teman barunya di sekolah. Mereka mengetahui bahwa Liesel tidak bisa membaca-menulis karena ketika ia diperkenalkan oleh gurunya, dan disuruh untuk menulis ejaan namanya di papan tulis, Liesel hanya menulis gambar atau mungkin huruf “X” sebanyak tiga kali. Karena hal inilah Liesel akhirnya berteman dengan Rudy, seseorang yang membelanya ketika dirundung oleh Franz Deutscher bersama yang lain.

Mengetahui bahwa anak asuhnya tidak bisa membaca, Hans Huberman akhirnya mengajari Liesel. Buku pertama yang dibaca Liesel sampai habis sampai ia benar-benar bisa membaca adalah The Gravedigger’s Handbook. Mulai saat itu ia sangat gemar membaca, bahkan di ruang bawah tanah keluarga Hubermann ia membuat kamusnya sendiri di tembok. Setiap kosa kata baru yang ia jumpai ditulis di tembok itu.

Liesel dan Rudy menjadi anggota Hittler Youth Movement. Pada prosesi pembakaran buku besar-besaran yang menjadi strategi politik kebudayaan Partai Nazi, yakni ingin menciptakan kebudayaan baru dengan menghancurkan sama sekali kebudayaan lama yang dianggap sebagai racun bagi ras arya, Liesel merasa berat untuk melakukannya. Namun karena adanya tekanan, ia terpaksa melakukannya. Liesel, menunggu kerumunan bubar. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa ia mencuri buku yang setidaknya selamat dari kobaran api. Ia mengambil buku H.G Wells berjudul The The Time Machine. Sayangnya tindakannya ini diketahui oleh ibu walikota yang saat itu juga turut hadir dalam acara pembakaraan buku tersebut.

Pada suatu malam Max Vadenburg, anak dari kawan lama Hans Hubermann datang secara tiba-tiba. Ia tengah berusaha menyelamatkan nyawanya dari kejaran tentara fasis Jerman karena statusnya sebagai Yahudi. Ia datang kepada keluarga Hubermann karena ayahnya dulu pernah menyelamatkan Hans saat Perang Dunia I, dan atas anjuran ibunnya. Hanya berbekal Mein Kampf, ia selamat dari kejaran. Akhirnya Max tinggal di bawah tanah, tempat di mana biasanya Liesel menuliskan kosa kata barunya. Liesel dan Max akhirnya bersahabat. Karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama membenci Hitler. Persahabatan antara keduanya adalah sebuah hubungan berbahaya karena Max yang seorang Yahudi. Pemerintah Jerman saat itu tidak akan memberikan ampun bagi siapa pun yang menyembunyikan seorang Yahudi atau pun orang yang berseberangan paham dengan pemerintah, seperti ibu Liesel yang seoran komunis.

Strategi politik Jerman yang memicu perang dunia kedua membuat ekonomi masyarakat Jerman saat itu carut-marut, bahkan pekerjaan susah dicari karena banyak perusahaan atau pun toko yang bangkrut karena sepinya pembeli. Keluarga Hubermann akhirnya membuka jasa cuci baju, Rosa Huberman menjadi tulang punggung keluarga karena Hans, suaminya, tidak mau bergabung dengan aktivitas politik. Padahal berkativitas politik adalah salah satu jalan yang paling ampuh untuk menyelamatkan dari keterpurukan ekonomi. Alasan di balik keengganan Hans Huberman untuk tidak bergabung adalah karena ia tidak sepaham dengan Jerman, pun Rosa pernah mengingatkan agar ia tidak lupa untuk mengibarkan bendera Hankenkeurz—simbol  partai Nazi, dan Jerman—agar tidak ketahuan bahwa sebenarnya mereka hanya sedang berpura-pura mendukung Jerman.

Liesel membantu ibu angkatnya mengantar baju, ternyata ibu walikota adalah salah satu pelanggan tetap keluarga Hubermann. Ketika mengantar baju ke rumah walikota, ibu walikota menanyai Liesel, apakah ia gemar membaca—seperti yang disinggung sebelumnya, ibu walikota mengetahui Liesel mencuri buku. Liesel dengan dengan ragu menjawab, karena keraguan itu, ibu walikota akhirnya membukakan pintu perpustakaan pribadinya yang berisi bergunung-gunung buku. Liesel pun diperbolehkan membaca di situ sampai puas dengan syarat menjaga kerahasiaan aktivitasnya tersebut. Sampai pada akhirnya bapak walikota mengetahui hal ini, dan Liesel tidak diperbolehkan lagi berkunjung. Berakhir pula hubungan bisnis keluarga walikota dan Hubermann. Rasa penasaran dan gairah baca Liesel ternyata tidak bisa dibendung. Ia pun nekat mencuri buku dari perpustakaan pribadi ibu walikota.

Musim dingin pun tiba. Max menyadari Liesel berbakat dalam bertutur berkat ketekunannya dalam membaca. Mein Kampf  dilabur Max dengan cat putih untuk dijadikan buku catatan sebagai kado untuk Liesel. Keluarga Hubermann merayakan musim dingin di ruang bawah tanah—sampai-sampai membuat boneka salju di ruangan itu. Setelah pesta, Max sakit keras karena kedinginan. Kondisi Max yang memburuk membuat Liesel khawatir, ia terus menemani sahabatnya dengan bacaan. Max akhirnya dapat melewati fase kritisnya tersebut.

Pada suatu hari Hans Hubermann mengetahui temannya dibawa paksa oleh tentara Jerman. Rasa kemanusiaan Hans terusik, ia pun membela temannya. Karena sikap heroiknya itu namannya dicatut, dan ia harus menjalani panggilan wajib militer. Kejadian itu membuat Max meninggalkan rumah keluarga Hubermann karena kondisi yang tidak kondusif. Liesel pun sedih.

Karena serangan udara yang dilancarkan sekutu, rumah keluarga Hubermann hancur. Sebelum serangan, Liesel tengah asyik menulis di ruangan bawah tanah sampai ia tertidur. Kebetulan ini membuat Liesel selamat dari bom. Semua kerabatnya meninggal, termasuk Rudy—sahabat ciliknya.
Tahun-tahun berlalu. Wilayah Jerman terbagi dua; Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada saat itulah, Leise dengan Max bertemu kembali, dan cerita berakhir di sini. Setelah itu narator muncul lagi, mengisahkan bahwa Leise telah berhasil menjadi penulis tersohor dan tinggal di Manhattan, New York. Ia telah memiliki anak-cucu, namun tidak dijelaskan dengan siapa ia menikah.

Kelebihan film ini adalah cerita dan alur yang dibangung secara apik. Selain usaha untuk memunculkan kesan bahwa perang adalah sebuah tindakan yang menghancurkan rasa kemanusiaan, The Book Thief juga berusaha menciptakaan pemaknaan ulang terhadap citra ibu angkat/tiri. Rosa Hubermann di sini memang digambarkan memiliki sifat yang keras, namun ia pun sebenarnya memiliki hati lembut seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, sikap kerasnya itu memang terbentuk oleh ligkungan, kepekaan hatinya tetap wajar adanya.

Film ini sanggup memberikan sebuah pembelajaran bahwa semua tindakan pencurian atau kejahatan apa pun tidak bisa diuji dengan moral umum. Kita harus melihat jauh ke dalam untuk menyikapi setiap kasus kemanusiaan.




 

0 comments:

Post a Comment