Intro Text

Hi! I'm Kelana Wisnu Sapta Nugraha - I have strong interest in Indonesian cultural history and genocide studies. Currently working as editor-in-chief at Pustaka Pias and living in Jatinangor.

Lukisan adalah suatu karya seni dua dimensi yang menghadirkan subjeknya secara visual, yang bersamaan dengannya pula hadir suatu hal, ide, atau peristiwa familiar yang terkadang tidak memiliki koneksi secara langsung dengan pengalaman kita. Dari yang kita lihat dari lukisan, kita kerap terinspirasi, mendapatkan informasi, serta merasakan kenikmatan dalam bentuk apa pun.[i] Tetapi, kadang pelukis juga menjadikan dirinya sendiri sebagai subjek untuk membahasakan suatu hal yang mungkin melampui keberadaanya secara visual. Dengan kata lain, untuk menyampaikan dirinya bersama perasaan yang sedang dialami, pun terkadang dilakukan sebagai suatu latihan olah komposisi. Van Gogh adalah salah satu pelukis yang melakukan cara kedua, karena ia tidak sanggup untuk membayar model untuk dilukis. Tapi justru berkat itu, potret dirinya tanpa kumis, brewok, dan jambang yang ia kerjakan sebelum meninggal, menjadi karya potret diri paling mahal yang pernah dijual selama ini.[ii] Selain itu, potret diri juga menawarkan pelbagai kemungkinan komunikasi lainnya.


Seorang pelukis mungkin tidak hendak menjadi fotografer ketika melukiskan potret-diri. Cara itu kurang lebih dilakukan pelukis untuk menjadikan lukisan sebagai rekam jejak untuk menampakkan identitas dirinya, seperti yang dilakukan oleh Frida Kahlo[iii]. Ia menjadikan potret diri sebagai lembar dokumen pengejawantahan perasaanya, juga sebagai rekam jejak hidupnya. Tidak kurang dari dua lusin potret-diri telah dibuat oleh pelukis Meksiko ini. Pada setiap periode, berbeda pula kecenderungan corak dari potret dirinya, berbeda pula perasaan yang ingin ia bebaskan dari kepalanya.

Bagaimana Frida menjadikan tumpukan kesedihannya menjadi karya serta latar belakang sosial-ekonomi-politik di balik setiap karyanya, terekam dengan apik dalam film yang disutradarai oleh Julie Taymor berjudul Frida (2002). Film berdurasi selama 123 menit ini dapat dijadikan pengantar untuk mengenal Frida lebih jauh, serta untuk membaca lebih lanjut mengapa ia cenderung melukis potret-diri. Bersama Salma Hayek, kita akan mengenal potret Frida yang emosional.



Alur Film Frida

Dari rumah birunya (Casa Azul) di Coyoacán, beberapa orang dengan begitu hati-hati menggotong tempat tidur yang juga tandu bagi si sakit yang berbaring di atasnya, Frida Kahlo. Mereka berusaha dengan teliti mengantarkannya bersama tempat tidurnya itu ke suatu tempat, pada suatu acara yang tidak ingin dilewatkannya, padahal saat itu ia tengah berjuang menghidupi saat-saat terakhir dalam hidupnya. Dari situlah film ini bermula. Selanjutnya, dari sebuah kaca di atas ranjang Frida, penonton disedot untuk masuk ke dalam cermin yang akan menyorot balik pengalaman kecil Frida dari masa remaja sampai saat itu, ketika ia telah dikenal sebagai pelukis besar dunia.

Frida adalah seorang mahasiswi kampus favorit yang tengah mengalami puncak pubertas. Ia gemar bercinta serta giat dalam berorganisasi. Selanjutnya, plot penentu cerita langsung dihadirkan, kecelakaan dalam angkutan kota yang menimpa Frida kelak akan menjadi penentu hidup si gadis Meksiko yang begairah ini.

Film yang didasarkan pada buku biografi Frida: A Biography of Frida Kahlo (1983) yang ditulis oleh Hayden Herrera ini kemudian mengisahkan perjuangan Frida melewati masa pemulihannya pascakecelakaan yang memberi bekas luka tusukan di punggung, mematahkan tulang punggung serta kaki kanannya. Masa itu adalah awal mula Frida mulai melukis, ayahnya memberi kanvas untuk menangkal kebosanannya.

Setelah sembuh, Frida tidak memikirkan kuliahnya lagi dan ingin melanjutkan proses kreatifnya dalam melukis. Ia memiliki garis darah seni dari ayahnya yang berdarah Jerman, yang pernah bekerja sebagai fotografer. Diego Rivera adalah orang yang ia temui untuk dimintai pendapat, apakah dengan kemampuan serta hasil lukisannya Frida layak untuk lanjut melukis atau berhenti sama sekali. Pelukis komunis Meksiko yang pernah ia rundung saat membuat mural di kampusnya dulu itu mengatakan bahwa Frida perlu melanjutkan kerja keseniannya. Lalu, hubungan keduanya sebagai kolega dalam berkesenian itu pun berlanjut pada sebuah pernikahan. Frida menikah dengan Diego yang telah meninggalkan dua janda.

Kehidupan pasangan ini diselimuti oleh drama perselingkuhan. Diego adalah seorang yang doyan dengan perempuan, terlebih untuk keperluan model untuk lukisan-lukisannya. Frida tahu akan tabiat pelukis tambun itu sebelum menikah. Diego pun juga telah berjanji untuk loyal kepada istrinya yang ia sering ia panggil Fridoca itu. Tetapi, perselingkuhan demi perselingkuhan tidak dapat mereka hindarkan, Frida yang biseksual pun pernah terlibat perselingkuhan dengan seorang perempuan yang juga menjadi selingkuhan Diego pada waktu bersamaan.

Sebagai seorang petinggi partai komunis Meksiko, Diego sering terlibat adu gagasan politik serta komitmen dalam berkesenian. Latar belakang itulah yang membuatnya terbawa dalam serangkaian intrik dan tuduhan dalam politik nasional, yang kelak juga membuatnya dituduh sebagai dalang di balik pembunuhan Leon Trotsky. Ia pun jenuh lalu memilih keluar dari Meksiko dan pergi ke Amerika. Negeri imperialis musuh para negara komunis itu pun menyambut pelukis Kiri terbesar pada masa itu dengan gempita. Suatu tawaran dari Rockefeller dialamatkan kepadanya. Ia diminta untuk membuat sebuah moral di Rockefeller Center. Diego menerima tawaran itu, tetapi ia tidak mau membuang visinya tentang anti privatisasi ekonomi itu.




Sketsa mural yang ia kerjakan untuk Rockefeller itu sebelumnya telah disetujui, tetapi di tengah jalan, lembaga yang belakang diketahui mendukung gerakan antikomunis di seluruh dunia itu meminta Diego untuk mengubah wajah Lennin beserta tokoh komunis lainnya yang ada dalam muralnya. Sebagai orang yang memegang teguh keloyalannya terhadap visi kerakyatan, Diego menolak. Penolakannya itu pun berujung pada demonstrasi orang-orang Amerika yang tidak sepakat dengan komunisme. Setelahnya, datang surat pemberhentian kontrak beserta bayaran penuh seperti yang dijanjikan sebelumnya. Muralnya yang setengah rampung di dinding Rockefeller pun dihancurkan. Diego pun marah besar karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Kejadian ini membuatnya menjadi depresi tak karuan. Ia bersama Frida memutuskan untuk kembali ke Meksiko.

Pada masa kejatuhan ini, Frida memergoki suaminya berselingkuh dengan adiknya sendiri. Keduanya terlibat pertengkaran hebat. Karena kejadian ini Frida berubah menjadi seorang alkoholik pemurung. Ia memutuskan pergi ke Paris, Prancis untuk meredakan kemurungannya itu. Tetapi, bertualang tanpa Diego membuatnya kesepian. Sekembalinya ke Meksiko, Diego menawarkan perceraian. Keduanya berpisah.




Perdamaian antara Frida dan Diego terjadi ketika salah satu petinggi Partai Komunis Rusia, yang juga terlibat dalam Revolusi Oktober, Leon Trotsky datang ke Meksiko untuk mencari suaka dari ancaman pembunuhan Stalin. Diego pun membantu menyembunyikan seorang yang disebut Stalin sebagai pengkhianat revolusi ini di rumah Frida. Si kakek komunis tua ini pun menjadi akrab dengan Frida. Meskipun tua, libidonya tetap menyala, terlebih karena kegelisahannya menghadapi ancaman serta bayang-bayang akan kematian, menjadi suatu alasan dari akumulasi libidonya itu. Ia pun terlibat hubungan badan dengan Frida. Kelak, Diego sangat sakit hati karena Frida terlibat main serong dengan orang yang ia kagumi serta hormati. Tetapi, Frida pun membalas. Ia juga ia merasakan hal yang sama ketika memergoki Diego bersetubuh dengan adiknya.




Luka yang ditinggalkan karena kecelakaannya pun membuat Frida menghadapi sisa hidupnya melawani rasa sakit yang sering kambuh dan semakin memburuk. Kaki kanannya juga terpaksa diamputasi karena gangren. Sisa hidupnya kembali dihabiskan di atas kasur. Diego pun datang kembali  untuk mengajaknya rujuk, lalu keduanya bersatu dalam ikatan pernikahan untuk kedua kalinya. Sebelum meninggal, Frida sempat melakukan pameran tunggal di kota asalnya. Pameran ini menjadi sangat penting baginya, karena selama ini ia tidak pernah ingin membuat pameran tunggal di luar negeri, tetapi keinginan terbesarnya adalah dilihat oleh masyarakatnya sendiri. Pelukis wanita yang menggambarkan penderitaannya dengan tajam, tegas, sekaligus lembut yang tak putus dirundung malang, kecelakaan, keguguran, dan lain lain ini pun mangkat dengan sukacita, tulisnya, “I joyfully await the exit – and I hope never to return.”

***

Frida lahir tiga tahun sebelum Revolusi Meksiko, tetapi kelak ia meromantisir hidupnya dengan revolusi itu dengan mengubah tahun lahirnya untuk menepatkan dengan momen itu. Dalam akta kelahirannya ia tercatat lahir pada tanggal 6 Juli 1907, selanjutnya tahun itu diganti menjadi 1910. Revolusi Meksiko adalah suatu momen yang memang bisa jadi kebanggaan bagi Frida untuk menempatkan dirinya dalam gelombang politik yang kelak disebut mempelopori negara lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam revolusi, Frida adalah salah satu perempuan Meksiko yang memiliki kesadaran untuk terlibat secara langsung dengan produksi kulturil dalam revolusi itu.[iv]

Gejolak revolusi itu tidak nampak secara gamblang dalam film ini, tetapi dapat dilihat dari bagaimana keluarga Frida mengalami krisis. Ayahnya juga mengalami kesulitan uang ketika Frida harus mengalami masa pengobatan. Ketika ia ingin memotret lagi, melanjutkan pekerjaannya dulu, ia pun sempat ragu bahwa ada yang akan memakai jasanya. Masa revolusi membuat kebanyakan orang tidak mampu mengakses hal-hal yang di luar kebutuhan pangan. Tetapi, Frida tumbuh besar pada masa penataan ulang sebuah sistim pemerintahan yang baru menjanjikan masa depannya beserta anak-anak lain yang sesusianya.

Perubahan saat itu belum terjadi secara keseluruhan, soal kesetaraan dalam mendapatkan pendidikan misalnya, masih sedikit perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Rata-rata mereka hanya sampai sekolah menengah atas saja, Frida adalah salah satu yang beruntung. Ayahnya, Guillermo menyadari kejeniusan anakanya itu dan mengizinkan Frida untuk melanjutkan pendidikan tinggi, ia pun juga membiarkannya bebas memilih, Frida memilih kampus yang rata-rata mahasiswanya adalah laki-laki, ia masuk ke Escuela Nacional Preparatoria (National Preparatory School).

Ia pun juga bertemu dengan seorang peluis besar Meksiko yang memilih meninggalkan gaya lukis kubistiknya dan mencoba menggali akar dari kenyataan sosial di Meksiko waktu itu. Pelukis yang memilih meneruskan jalannya dengan membawa gagasan Revolusi Meksiko itu pun mampu membuat Frida jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada saat itu pula Frida bercerita kepada teman-temannya, ia bersumpah bahwa kelak akan menikahi Diego Rivera. Lelaki yang dipujanya itu.

Meningkatnya jumlah pengangguran, kelaparan akibat gagal panen yang melanda Meksiko, dan serangkaian masalah yang diakibatkan oleh sistem ekonomi liberal yang menguntungkan segelintir pihak saja adalah beberapa faktor yang memengaruhi revolusi Meksiko.[v] Jadi tidak heran jika Frida juga terlibat dalam gelombang itu, yang nantinya juga memengaruhi ia untuk terlibat aktif dalam Partai Komunis Meksiko, terlepas juga keterpengaruhan dari Diego Rivera. Agak terlalu menyerdehanakan masalah jika mengaitkan hubungan keduanya terhadap keputusan Frida masuk partai. Frida adalah orang yang memang peka terhadap sekitar dan ia memasuki partai memang karena kesadaran politisnya.

***

Seperti yang telah disinggung dalam penceritaan alur, pada tahun 1933 Nelson Rockefeller mempromosikan Rivera untuk mengerjakan sebuah lukisan mural untuk Rockefeller Center. Memberi dukungan terhadap seniman sayap kiri adalah hal yang umum dikerjakan oleh lembaga filantropi dunia yang juga berada di balik kerja kebudayaan CIA dalam memerangi wacana komunisme dalam Perang Dingin. Tak heran jika ibu Nelson, Abby Aldrich Rockefeller pernah berpendapat bahwa orang merah akan berhenti menjadi merah jika kita bisa mendapatkan pengkuan artistiknya.[vi] Ketika melakukan inspeksi pada lukisan Diego, Nelson Rockefeller yang dalam film diperankan oleh Edward Norton mendapati salah satu figur dalam lukisan itu yang menggambarkan Vladimir Ilich Lenin. Ia meminta Diego untuk menghapus itu, tetapi ditolak oleh Diego. Di dalam film, juga digambarkan bagaimana Diego telah mengatakan bahwa ia adalah seorang pelukis yang pro terhadap hak komunal. Karena penolakannya itulah, pesanan mural untuk tembok Rockefeller Center dibatalkan, Diego dibayar lunas sesuai perjanjian sebesar $21.000. Karya Rivera yang hampir selesai itu dihancurkan pada bulan Februari 1934.   




Film berdurasi 123 menit ini mampu memilih plot-plot penting dalam hidup Frida untuk mengambarkan bagaimana proses perjalanan si pelukis menemukan gaya serta alasan di balik lukisannya yang terkesan sureal itu. Alur sangat padat yang dibangun pun mampu menemukan benang merah yang merangkum seluruh cerita Frida Kahlo tanpa terkesan melompat-lompat, seperti yang sering saya jumpai ketika menonton film biografi murahan, seperti Chrisye kemarin misalnya. Julie Taymor pun tidak menyelesaikannya secara terburu-buru, dibangun dengan tenang meski sangat cepat, film ini mampu menggambarkan semua kesedihan Frida Kahlo yang ia tumpahkan ke dalam setiap lukisannnya. Setiap lukisan yang memiliki jejak sejarah terhadap hidup Frida, dihadirkan sebagai pintu masuk untuk setiap cerita penting yang disajikan.

Tambahannya lagi, film ini juga memberikan kesan sosio-politis yang genit tapi tetap apik. Kita dapat membicarakan semua hal yang berkaitan dengan Frida lewat film ini. Selamat ulang tahun, Frida~






[i] Soal pengertian atau definisi tentang lukisan, lihat W. Stanley Taft and others, The Science of Paintings (New York: Springer, 2000), p. 2.
[ii] Awalnya lukisan potret-diri adalah hal yang tabu dilakukan, tetapi setelah Abad Pencerahan gaya ini menjadi populer, terutama setelah Albrech Duhrer membuat banyak potret diri tentang dirinya. Lihat Kim Hart, ‘10 Masters of the Self-Portrait, from Frida Kahlo to Cindy Sherman’, Artsy, 2018 [diakses 2 Juli 2018].
[iii] Claudia Schaefer, Frida Kahlo: A Biography, Greenwood Biographies (Westport, Conn: Greenwood Press, 2009), hlm 92.
[iv] Mengenai peran perempuan dalam Revolusi Meksiko lihat Tabea Alexa Linhard, Fearless Women in the Mexican Revolution and the Spanish Civil War (Columbia, Mo.: University of Missouri Press, 2005), p. 68.
[v] Lebih lanjut, lihat William H. Beezley and Colin M. Maclachlan, Mexicans in Revolution, 1910-1946: An Introduction (UNP - Nebraska Paperback, 2009), p. 3 .
[vi] Lihat Frances Stonor Saunders, The Cultural Cold War: The CIA and the World of Arts and Letters (New York: New Press : Distributed by W.W. Norton & Co, 2000), p. 258.

Refrensi:

Beezley, William H., and Colin M. Maclachlan, Mexicans in Revolution, 1910-1946: An Introduction (UNP - Nebraska Paperback, 2009)
Hart, Kim, ‘10 Masters of the Self-Portrait, from Frida Kahlo to Cindy Sherman’, Artsy, 2018 [accessed 2 July 2018]
Linhard, Tabea Alexa, Fearless Women in the Mexican Revolution and the Spanish Civil War (Columbia, Mo.: University of Missouri Press, 2005)
Saunders, Frances Stonor, The Cultural Cold War: The CIA and the World of Arts and Letters (New York: New Press : Distributed by W.W. Norton & Co, 2000)
Schaefer, Claudia, Frida Kahlo: A Biography, Greenwood Biographies (Westport, Conn: Greenwood Press, 2009)
Taft, W. Stanley, James W. Mayer, Richard Newman, Dusan Stulik, and Peter Ian Kuniholm, The Science of Paintings (New York: Springer, 2000)

 



Judul: Affandi Pelukis
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Nyala
Tahun: September, 2017
Cetakan: Pertama
Tebal: 97 halaman
ISBN: 978-602-60855-6-6

Atas keramaian dunia dan cedera,
Lagak lahir dan kelancungan cipta,
Kau memaling dan memuja
Dan gelap-tertutup jadi terbuka!

(Chairil Anwar, Kepada Pelukis Affandi, 1946)

Si “buruk rupa” Bambang Sukrasana itu dicatet dan dapat tempat dalam sajak-sajak Chairil, "Kepada Pelukis Affandi"’ dan "Betina"-nya Affandi". Si Binantang Jalang itu seolah sangat kagum dengan kesetiaan Sukrasana terhadap kerja dan pencapainnya memindahkan Taman Sriwedari milik Dewi Sri itu ke bumi. Dan gelap tertutup jadi terbuka, Affandi “tukang gambar” menempati “menara tinggi”, tempat yang diinginkan juga oleh Chairil seperti yang ia tulis, Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti / kecemasan derita, kecemasan mimpi; / berilah aku tempat di menara tinggi, / di mana kau sendiri meninggi //  Tidak hanya Chairil, Nasjah Djamin pun membuat sebuah novel pendek berjudul Affandi Pelukis untuk pembaca yang seumur dengan Agus, tokoh utama dalam cerita, yakni anak-anak.

Dalam novel pendek ini dikisahkan bahwa ibu guru memuji gambar Agus dan berharap anak didiknya itu kelak menjadi pelukis seterkenal Affandi. Agus yang duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar menjadi penasaran karena ibu gurunya menyebut Affandi mendapatkan gelar doktor dari Universitas Singapura. Ia heran. Bagaimana seorang pelukis bisa mengobati orang lain? Agus tidak paham dengan gelar doktor (Honoris Clausa) yang dimaksudkan oleh ibu gurunya itu berbeda dengan dokter sebagai profesi mengobati orang. Penasarannya inilah yang membuatnya bertanya kepada orang tuanya tentang Affandi dan bagaimana bisa seorang pelukis menjadi dokter?

Agus dan keluarganya tinggal di kampung, sekitar 10 km di utara Yogyakarta, di sebuah desa di Kaliurang, lereng gunung Merapi. Orangtuanya adalah seorang petani. Mereka tidak bisa menjawab rasa penasaran Agus karena tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Orang tua Agus menyarankan anaknya itu untuk bertanya kepada pamannya yang kuliah di Fakultas Sastra, UGM. Paman Agus tidak jarang mampir ke rumah Agus jika pulang kampung. Secara kebetulan, pada kepulangannya yang terakhir, pamannya membawa lukisan Agus untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba gambar majalah anak-anak di Jakarta.

Pamannya itu pulang dengan membawa kabar gembira, setelah sekian lama Agus menunggu dengan resah. Lukisan Agus berhasil menjadi juara dalam perlombaan tersebut. Ia mendapat hadiah dan tabungan senilai lima ribu rupiah. Rasa penasarannya terjawab segera setelah pertanyaan yang mengganggu pikirannya tersebut dijawab pamannya. Mengetahui keponakannya sangat penasaran dengan sosok Affandi, Agus diajaknya jalan-jalan ke museum Affandi.

Pada hari Minggu paman menepati janjinya untuk membawa Agus turun mengunjungi museum Affandi. Ternyata museum sedang tutup, dan Affandi tidak ada di rumah. Akan tetapi Agus tidak kecewa, ia cukup puas dapat mengunjungi rumah seorang pelukis besar yang didongengkan gurunya di kelas itu. Ia pun heran dengan segala kondisi rumah Affandi yang tak lazim sebagai rumah seorang yang besar, hal yang membuat Agus merasa janggal adalah tempat duduk untuk para tamu yang terbuat dari bamboo, dan tempat duduk itulah yang disinggahi orang-orang penting. Kesederhanaan hidup Affandi inilah yang menjadi bahan obrolan antara Agus dan pamannya ketika pulang dari museum.

Agus dan pamannya tidak langsung kembali ke desa tetapi menemui kawan paman, mbak Juminten. Sebuah naskah cerita tentang Affandi untuk anak-anak tengah digarap oleh mbak Juminten. Paman menyarankan Agus untuk membaca naskah tersebut untuk meredakan rasa penasarannya serta untuk mengukur apakah naskah tersebut mampu dicerna baik oleh anak-anak seperti yang dikehendaki oleh penulisnya. Naskah tersebut berjudul “Pelukis Besar Affandi”.

Pelukis Besar Affandi

Affandi berasal dari latar belakang keluarga dengan kondisi keadaan ekonomi yang kurang dari cukup tapi tidak juga miskin. Ayahnya yang bernama Kusuma bekerja sebagai seorang juru gambar peta di perkebunan tebu milik Belanda. Affandi lahir dari Rahim istri kedua ayahnya, Radjem. Bersama keenam saudara kandungnya yang lain, Affandi hidup rukun dengan keluarganya. Dengan keadaan ekonomi yang tidak cukup berada, pak Kusumah ingin menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Belanda.

Selazimnya anak-anak lain, suka adu jotos, bermain, dan juga nakal adalah Affandi. Suatu saat desanya terkena sebuah wabah cacar, dan mengakibatkan empat saudaranya meninggal. Bencana itu menyisakan Affandi dengan dua orang kakaknya: Abu Bakar dan Ir. Sabur, dan bekas luka dari cacar itu membuat mukanya menjadi buruk rupa. Kondisi inilah yang membuat Affandi menganggap dirinya sebagai Sukrasana dalam cerita wayang yang buruk rupa.

Kegemarannya menggambar sudah kelihatan pada masa kanak-kanaknya itu, ia lebih suka menggambar daripada belajar materi yang diterimanya di sekolah. Ayahnya yang ingin anak-anaknya menjadi orang yang lebih tinggi martabatnya dari dirinya tidak suka dengan kebiasaan Affandi itu, yang terkadang membuatnya lupa untuk belajar.

Setelah selesai belajar di HIS Cirebon, Affandi melanjutkan sekolah ke MULO Bandung. Pada masa inilah kegemarannya dalam menggambar semakin bersinar, ia makin sering berlatih dan mengasah kemampuannya dalam menggambar. Setelah dari MULO ia ingin melanjutkan sekolah ke Belanda untuk mempelajari lebih lanjut mengenai seni lukis. Saat itu, belum ada sekolah kesenian di Indonesia.

Ayahnya meninggal pada tahun 1929, kakaknya Ir. Sabur menggantikan peran ayahnya tersebut dalam menopang keberlanjutan hidup Affandi. Keinganannya untuk melanjutkan sekolah gambar ke Belanda ia utarakan kepada kakaknya. Ir. Sabur menolak untuk membiayai jika Affandi mengambil kekhususan tersebut, ia ingin adiknya menjadi insinyur. Maklum, saat itu profesi ahli gambar belum menjadi sesuatu yang menjanjikan bahkan sama sekali tidak pernah dibicarakan oleh para-para masyarakat di negeri Hindia-Belanda; tidak seperti hari ini, orang tua tidak terlalu ragu untuk menerima lamaran seorang pelukis atau seniman.

Pada tahun 1933 Affandi menikah dengan Maryati. Ia bekerja sebagai tukang reklame di bioskop ‘Elite’ dekat alun-alun Bandung untuk memenuhi kebutuhan hidup, terkadang juga bekerja sebagai tukang tiket di bioskop tersebut. Dari sinilah hidupnya yang sangat sederhana digantungkan.Affandi berlangganan susu untuk Kartika, anaknya yang baru lahir. Saban hari tukang pengantar susu langganannya mengamati Affandi melukis, yang biasanya dikerjakan oleh Affandi di halaman rumah. Terkadang tukang pengantar susu itu sampai lupa untuk mengantarkan susu ke tempat lain karena keasyikkan melihat Affandi berjibaku dengan cat dan kanvas. Iba dengan keadaan si tukang susu itu, Affandi bertanya apakah ia suka menggambar? Tukang susu itu segera menjelaskan bahwa ia sangat gemar menggambar. Di rumahnya ia sudah menyimpan beberapa hasil karyanya. Mendengar jawaban yang semangat tersebut Affandi memberinya sisa cat yang selesai ia pakai kepada si tukang susu itu. Keesokan harinya, tukang susu itu tidak mengantarkan susu lagi ke rumah Affandi. Tukang yang mengantar sudah berganti. Suatu hari tukang susu itu datang lagi dan membawa hasil lukisannya, ia melukisnyua menggunakan sisa cat pemberian Affandi. Inilah perjumpaan pertama kedua maestro lukis yang kelak menjadi tonggak sejarah seni lukis modern Indonesia. Tukang susu itu bernama Soedarso.

Saat masih di Bandung kebetulan Basuki Abdullah baru saja pulang dari Belanda setelah menyelesaikan sekolah gambarnya. Karena ingin mendapatkan seorang yang setidaknya bisa dijadikan lawan tukar pikir atau pembimbing dalam perjalanan kesenian, Affandi menemuinya. Sesampainya di depan rumah Basuki Abdullah, Affandi disambut oleh pembantu. Ia dipersilakan untuk menunggu sebentar sementara pembantu itu menanyakan apakah tuannya dapat ditemui. Di luar Affandi mendengar Basuki bertanya kepada pembantunya apakah orang yang ingin menemuinya tersebut dapat berbahasa Belanda? Percakapan yang terdengar sampai luar pintu itu membuat Affandi kecewa, padahal Affandi bisa berbahasa Belanda berkat pendidikannya di sekolah Belanda. Ia pun diam-diam meninggalkan rumah itu dan meneruskan belajar menggambar secara otodidak.

Affandi bergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang dipelopori oleh S. Sudjojono yang saat itu sebagai sekretaris dan diketuai oleh Agus Djajasuminta. PERSAGI yang menjadi tempat berkumpulya pelukis-pelukis Indonesia, yang tidak diakui sebagai pelukis oleh orang-orang kulit putih. Bangsa Belanda hanya mengakui, Basuki Abdullah sebagai pelukis yang ulung. Sementara pelukis-pelukis Indonesia lainnya dianggap hanya “Inlander” saja yang tidak mengerti seni. (hlm.67) Di tempat inilah Affandi dapat belajar banyak dari pengalamannya bergulat bersama dengan para pelukis Indonesia lainnya yang mencoba menemukan corak seni rupa Indonesia di bawah bimbingan S. Sudjojono.

Pada tahun 1940 dalam pameran tunggalnya di Jakarta, lukisan Affandi dibeli oleh Safei Sumarja, seorang juru gambar yang baru kembali dari Eropa setelah lulus di Akademi Seni Lukis. Dari sinilah semangat dan tekad Affandi untuk terus menggambar semakin mantap. Safei Sumarja juga mengungkapkan bahwa Affandi adalah pelukis yang mempunyai harapan. Kelak perkataan Safei Sumarja yang hampir mirip sebuah ramalan itu tepat dan sama sekali tidak salah.

Banyaknya pelukis dan pemahat yang ahli di Bali membuat Affandi tertarik untuk mengunjunginnya. Di Bali juga tinggal pelukis-pelukis asing semisal, Le Mayeur, pelukis asal Belgia, tinggal dan melukis di pantai Sanur, atau Bonnet dari Swiss yang tinggal di Ubud. Banyak sekali fenomena yang cocok sebagai bahan lukisan Affandi di pulau dewata itu. Ia melukis penari-penari Bali, perahu-perahu di pantai, adu jago, dlsb. Ketika Perang Pasifik pecah ia kembali lagi ke Jakarta.

Pada masa Pendudukan Jepang Affandi bergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat di bawah pimpinan empat serangkai (Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, K.H. Mas Mansoer). Di sini Soekarno dkk. menggembleng rasa kebangsaan para seniman dan aktivis kebudayaan lainnya. Berkumpul para sastrawan, komponis, dan pelukis di dalamnya. Saat itu Jepang menghendaki para pelukis-pelukis untuk membuat pameran yang menunjukkan kegiatan “romusha”, dengan penggambaran pekerja-pekera sukarela yang sigap , tegap, dan kuat. Tapi Affandi menolak  untuk melukis seperti kemauan Jepang karena apa yang dikehendaki oleh Jepang tidak sesuai dengan kenyataan yang ia lihat. Ia melukiskan para romusha itu kurus kering, lapar, compang-camping, dan terlihat penyakitan. Sikapnya inilah yang membuat Jepang marah-marah.

Affandi dan para pelukis lainnya kembali ke Jogja bersamaan dengan dipindahkannya sementara ibukota republik ke Yogyakarta—setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta balatentara Belanda datang lagi untuk menguasai republik dan Jakarta menjadi tidak aman. Di Yogyakarta ia mendirikan organisasi Seniman Masyarakat yang kelak dilebur jadi “Seniman Indonesia Muda” (SIM). Di situ berkumpul para pelukis seperti S. Sudjodjono, Soedarso, Oesman Effendi, Soediardjo, Hariyadi, dan S. Soparto Sanggarnya terletak di Alun-alun Utara dekat bioskop Soboharsono.

Ia pun turun ke medan pertempuran. Di Karawang ia melukiskan lukisan “Berunding”. Lukisan empat orang laskar di rumah desa sedang meneliti peta. Memakai topi pandan dan ikat merah putih. Lukisan ini dibeli oleh Presiden Soekarno, dengan cara bayaran mencicil. Lukisan lain ialah “Mata-mata Musuh”. Seorang mata-mata Belanda tertangkap di Kerawang oleh laskar. (h.76) 

Ketika Agresi Militer Belanda II meletus di Yogyakarta, para pelukis dan seniman mengungsi ke Jakarta. Affandi tidak ikut rombongan tersebut yang berangkat awal itu, ia baru menyusul ke Jakarta setelahnya. Bersama pelukis dan seniman lainnya ia ditampung oleh Pak Said di  garasi Taman Siswa. Di situlah ia bertemu kelak ia akan menggambar sosok Chairil.

Pada tahun 1946 Chairil menulis sajak "Kepada Pelukis Affandi" dan ""Betina"-nya Affandi". Nasjah Djamin dalam bukuya yang lain, Hari-hari Akhir Si Penyair pernah mengisahkan bahwa suatu hari Chairil meminta dilukis oleh Affandi. Sebetulnya Affandi jarang mau untuk melukis orang lain yang tidak mengetuk perasaannya, dan pula ia tidak pernah melukis orang besar selain Chairil. Namun melihat Chairil, Affandi merasakan hal yang sama dengan dirinya: seorang compang-camping yang betul-betul menyerahkan hidupnya untuk berkesenian. Affandi kesusahan untuk menyelesaikan lukisan tersebut karena sifat Chairil yang susah sekali untuk diam. Lukisan itu diselesaikan Affandi ketika Chairil wafat, dari CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) ia tidak ikut ke prosesi pemakaman Si Binatang Jalang tetapi pulang ke Taman Siswa untuk menyelesaikan gambar Chairil karena Affandi takut akan kehilangan ke-chairilannya Chairil jika lukisan itu tidak segera diselesaikan.

Beberapa waktu setelah Penyerahan Kedaulatan oleh Belanda dan Indonesia menjadi “Republik Indonesia Serikat” bulan Desember 1949, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Shantiniketan Art School, India.  (hlm.83) Tapi ia ditolak oleh Shantiniketanuniversitas seni yang didirikan oleh Rabindranath Tagore—setelah melihat karya-karya Affandi pihak universitas menganggap bahwa ia sudah bisa melukis. Uang beasiswa itu digunakan oleh Affandi keliling India dan Eropa untuk melukis dan pameran.

Sejak saat itu perjalanan Affandi dalam dunia melukis menjadi mudah.. Tapi pencapainya yang gilang-gemilang itu ia tidak mengubah sikapnya untuk tetap rendah hati.Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah gambar, ia sempat diangkat mengajar siswa-siswi di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI). Ia juga sempat mengembara ke Amerika Serikat untuk pameran dan melukis. Dalam pengembaraanya di Amerika itu ia diundang menjadi profesor di Ohio State University selama satu tahun. Begitulah mbak Juminten mengisahkan tentang pelukis Affandi.

Setelah membaca berulang kali naskah mbak Juminten, Agus diajak mengunjungi lagi museum Affandi. Kebetulan hari itu sang pelukis besar tersebut ada di rumah. Agus pun melihat lukisan-lukisan Affandi yang ada di dalam museum.Setelah puas melihat-lihat ia ngobrol dengan Affandi yang ternyata sudah akrab dengan paman dan mbak Jum. Affandi mendengar cita-cita agus yang juga ingin menjadi pelukis. Ia menasihati Agus untuk terus belajar dan tidak menyerah. Sosok yang konon rendah hati dan bergelar doktor (HC) itu telah disaksikan sendiri oleh Agus, semua yang telah Agus dengar dari penuturan guru dan pamannya dan dari yang ia baca dari naskah mbak Juminten bukan sekadar isapan jempol. Meminjam baris puisi Chairil lagi, Affandi adalah seorang pelukis yang menempati menara tinggi!











 Judul buku: Sekelumit Nyanyian Sunda
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1962

“Takut itu menguasai dan memerintah, karena takut dibunuh orang lain! Semuanya karena takut, segala kepahlawanan, keganasan pengkhianatan dalam hidup ini!” –Nasjah Djamin

Kritik H.B Jassin  pada tahun 1965 terhadap naskah “Titik-titik Hitam”  dianggap oleh Nasjah Djamin telah membunyikan lonceng kematian terhadap dirinya, seperti yang ia tulis dalam Proses Kreatif-nya (1984) yang disunting oleh Pamusuk Eneste. Esai Jassin tersebut dimuat di Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, dengan judul “Segi-segi Negatif dalam Kesusastraan Indonesia”. Nasjah Djamin dianggap satu nafas dengan kultur Utuy Tatang Sontani, antiagama dan amoral. Padahal sebelumnya, dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai IV (1964) HB Jassin mengangkat naskah ini dan menyarankan kepada Balai Pustaka untuk mengimbangi terbitannya dengan kumpulan sajak, cerita pendek, dan drama-drama yang bermutu seperti ini. Ia menyarankan penerbit, tidak hanya Balai Pustaka, untuk tidak hanya pasif menunggu naskah, tapi memasang kuping dan mata untuk mencari dan meminta naskah-naskah yang belum pernah diterbitkan yang sempat muncul dalam koran, majalah, atau radio. Kritik Jassin tersebut mungkin didengar oleh redaksi yang melandasi diterbitkannya kumpulan naskah drama ini oleh Balai Pustaka. Namun, satu tahun kemudian pemikiran HB Jassin berubah.

Nasjah Djamin saat itu tidak menjawab kritik Jassin, pun ia tidak menyampaikan pembelaannya di surat kabar mana pun! Ia tidak berusaha membersihkan namanya dari pelbagai tuduhan yang pada masa tersebut yang dialamatkan terhadapnya, semisal ia juga dicap sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). Padahal Nasjah Djamin tidak pernah bergabung dengan kelompok tersebut, ia hanya kebetulan pernah mengikuti rapat LKN sekali dan menolak ajakan Gayus Siagiaan untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. Terhadap tudahan ini, Nasjah pun memilih diam.



Naskah “Sekelumit Nyanyian Sunda” terbit di Majalah Budaya Th. VIII No. 3/4/5, Maret/April/Mei 1959 bersamaan dengan tiga pemenang drama tahun 1958 lainnya, Motinggo Busye dengan “Malam Djahanam” dan Misbach Yusra Bisran dengan “Bung Besar”. “Sekelumit Nyanyian Sunda”  merupakan drama dua babak yang penulisannya didasarkan pada cerita pendek Nasjah dengan judul yang sama dan terbit dalam majalah Budaya bulan Mei 1954. Sedangkan naskah drama “Titik-titik Hitam” juga dimuat dalam majalah Budaya pada Th. V No. 10/11, Oktober/November 1956. Cerita-cerita drama ini kemungkinan lahir ketika Nasjah menjadi bagian dari  “seniman Malioboro” membentuk kelompok drama teater Indonesia yang mengadakan pementasan drama, deklamasi, seni tari, musik. Di masa kegiatan pentas inilah kemungkinan besar masa lahirnya kedua cerita drama ini.

Sekelumit Nyanyian Sunda yang berisi dua naskah drama Nasjah Djamin: Titik-titik Hitam dan Sekelumit Nyanyian Sunda.

Titik-titik Hitam

Naskah drama Titik-titik Hitam bercerita tentang bagaimana penyintas revolusi fisik bernama Adang yang mengalami cacat akibat perang tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki terhadap seorang istri. Ia terkena mortir di bagian vitalnya. Cacatnya itulah yang pada akhirnya menimbulkan sebuah permasalah pelik yang melibatkan adik kandungnya, Trisno dan Hartati, istrinya. Cinta segitiga antara Trisno, Hartati, dan Rahayu (adik kandung Hartati) terjadi karena Adang adalah seorang impoten.

Adang dikisahkan sebagai orang yang mencoba berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri karena putus asa. Di masa keputusasaan tersebut, Hartati menjadi penyelamatnya dari keputusasaan. Ia berjanji untuk menemani Adang seumur hidup tanpa peduli apa pun yang akan terjadi. Dan keduanya menikah. Pilihan yang diambil Hartati dengan menimbang segala konsekuensi logis yang mungkin menimpa sebuah kehidupan rumah tangga ini telah mengantarkannya pada sebuah kerumitan hidup. Janjinya untuk tidak pernah meninggalkan Adang berubah menjadi ketegangan batin ketika pada akhirnya ia mengetahui  Adang ternyata tidak dapat memberinya keturunan, bahkan tidak bisa menyentuh Hartati sama sekali.

Adang yang merasa hanya dapat memenuhi kebahagiaan istrinya dengan materiil akhirnya bekerja keras tanpa henti, ia sering pergi ke luar kota dengan jangka waktu yang tidak sebentar karena urusan pekerjaannya tersebut. Hidup Adang adalah untuk kerja dan kerja. Trisno adik kandung Adang tidak tega melihat kesepian hebat yang dirasakan oleh Hartati, yang mengalami kesepian luar dalam.  Ia pun terperangkap dalam kehitaman, ia gelap mata, berhubungan badan dengan Hartati, dan mengkhianati kakaknya sendiri.

Hubungan terlarang itu berlangsung agak lama, sehingga pada suatu saat Trisno meminta Hartati untuk menceraikan kakaknya dan menikah dengannya dan ia akan mengakui perbuatannya tersebut dengan jujur pada keluarganya dan keluarga Hartati. Permintaan Trisno tersebut dipicu oleh Hartati karena ia menanyakan kepada Trisno, apakah Trisno serius mencintainya? Namun, ternyata Hartati tidak dapat memenuhi permintaan Trisno karena keterikatan janjinya terhadap Adang. Di sisi lain, ia menuntut keseriusan cinta Adang. Masalah tersebut membaut percecokan antara Trisno dan Hartati. Hartati yang emosi melimpahkan keraguan Trisno untuk menjawab pertanyaanya tersebut kepada adiknya, Rahayu. Ia menuduh Rahayu telah mendapatkan hati Trisno dan keduanya dituduh bermain di belakang Hartati. Mendengar hal tersebut, Ayu (panggilan Rahayu) yang juga serumah dengan Hartati marah besar dan memutuskan untuk minggat. Secara tidak langsung ia juga diusir oleh Hartati. Trisno yang tidak menyangka kelakuan Hartati tersebut memutuskan untuk pergi karena tidak tahan. Hal tersebutlah yang membuat Hartati merana dan jatuh sakit, ia ingin bunuh diri. Bagian ketika Hartati tergolek sakit menjadi awal cerita ini.

Adang kebingungan. Ia yang selama ini melanjutkan hidup hidup karena motivasi Hartati tiba-tiba tidak memiliki alasan untuk bertahan lagi karena keputusan istrinya untuk mengakhiri hidup. Dalam keadaan yang menegangkan karena Hartati mengalami kritis, ibu Hartati menjadi titik tumpu di mana Adang menyalahkan penyebab sakitnya Hartati. Karena dulu ia adalah orang yang pernah juga melarang pernikahan Adang dan Hartati. Ibu Hartati dalam cerita ini terlibat sebagai tokoh yang berada dalam posisi pendukung yang memperlihatkan semua watak para tokoh-tokoh dalam cerita.

Dokter Gun yang sudah lama menjadi dokter keluarga Hartati tengah berjuang selama sepekan penuh merawat Hartati yang sudah menyerahkan hidupnya untuk direnggut oleh maut, dan ia mengatakan bahwa Hartati, yang tidak mau ditemui oleh ibu atau pun suaminya itu, selalu memanggil nama Ayu. Karena hal tersebut Adang mengirimkan telegram kepada Rahayu (Ayu) dan Trisno, kedua orang yang telah minggat karena pertengkaran dengan Hartati tersebut, untuk pulang menjumpai kakaknya.

Hartati telah benar-benar menyerah dan berniat membawa titik-titik hitam dalam dirinya pada maut sebagai bentuk pertanggungjawaban karena ia merasa sangat bersalah. Dalam cerita yang hanya berlangsung satu malam itu pula Adang baru mengetahui bahwa Hartati telah mengandung selama satu bulan dari dr. Gun. Ia sangat kaget karena tidak mungkin benih dalam rahim Hartati itu adalah anaknya karena dia memang tidak memiliki kemungkinan untuk memiliki anak. Dan konflik antara Trisno, Rahayu, Adang, serta Hartati itu terlerai ketika Hartati meninggal dunia.

Tokoh-tokoh dalam naskah ini memiliki titik-titik hitamnya masing-masing. Sebagaimana rupa manusia yang wajar kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Setiap mereka menyimpan dusta, berlindung di balik kebohongan dan bertopeng kemunafikan. Perselingkuhan, perlarian diri dari kenyataan hidup, dan titik-titik hitam lainnya dalam manusia dalam naskah ini diolah dengan ketegangan-ketegangan yang mengejutkan. Titik-titik Hitam menghadirkan lanskap yang sangat wajar dari kegelisahan hati manusia.

Sekelumit Nyanyian Sunda

Nasjah Djamin adalah seorang terlibat langsung dalam revolusi menghadapi agresi militer Belanda yang kala itu mencoba mengusai kembali republik setelah kemerdekaan disuarakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Ia bersama para seniman di bawah komando S. Soedjojono melakukan longmars ke Jawa Barat, membuat poster-poster perjuangan untuk memupuk semangat tentara republik. Dalam Hari-hari Akhir si Penyair dikisahkan bahwa ia pernah menetap di kaki gunung Galunggung bersama pasukan gerilya lainnya. .

Naskah drama Sekelumit Nyanyian Sunda mengisahkan pergulatan batin seorang pejuang yang berasal dari Sumatra Utara semasa revolusi bernama Imran yang mungkin adalah alter-ego dari Nasjah Djamin. Pergulatan tersebut adalah mempertanyakan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang hancur akibat perang. Imran yang menjadi tokoh yang dipertemukan dengan seorang serdadu NICA—seorang Indonesia—yang terluka parah dan ingin mengakhiri hidupnya di sebuah gubuk keluarga di bukit dekat Danau Leles. Nilai kemanusiaan antar sesama manusia timbul ketika ketegangan antarkeduanya luluh akibat dialog sentimentil yang timbul secara insidentil pula. Berikut kronologis cerita drama dua babak ini:

Ketika sudah dekat dari Danau Leles, Imran dan Enda sudah mendengar suara letusan senjata api. Mereka berdua mempunyai tugas untuk menyampaikan sebuah surat kepada komando tentara republik yang bermakas di Leles, Garut, Jawa Barat. Di tengah perjalanan tersebut malaria yang diderita oleh Imran kumat. Ia ingin menyerah untuk melanjutkan perjalanan, ia mengigau parah, meracau soal nilai moral dalam dirinya yang mengalami pergulatan tentang perang. Tangannya yang sudah membunuh 12 serdadu Belanda tersebut tiba-tiba merasa bersalah, ia seolah merasa saling-bunuh adalah sebuah hal yang tidak bermoral.

Enda bingung melihat keraguan kawannya tersebut untuk meneruskan perjalanan, ia menyadari bahwa badan Imran ternyata panas tinggi. Lalu, ia turun untuk mencari sebuah tempat istirahat untuk temannya tersebut agar ia dapat meninggalkannya untuk mencari obat. Enda akhirnya menghampiri sebuah rumah yang menjadi sumber suara kecapi dan nyayian seorang gadis yang mendendangkan lagu Sunda. Ia memutuskan untuk menitipan Imran kepada gadis yang tinggal di dalam rumah tersebut, dan ia pergi ke bawah untuk mencari pil kina.

Di dalam rumah si gadis tersebut tergolek tubuh serdadu NICA yang mengalami luka parah, kaki kirinya hancur akibat bom. Serdadu yang sedang sekarat tersebut ditemukan di dekat rumah keluarga si gadis, dan ia memutuskan untuk merawatnya. Si Bapak dan adiknya turun ke Leles memanggil patroli Belanda untuk menjemput serdadu sekarat tersebut. Awalnya Imran tidak tahu bahwa ada seorang serdadu NICA di rumah yang ditumpanginya tersebut, akan tetapi raung kesakitan serdadu tersebut membuatnya sadar bahwa di rumah itu ada orang lain, padahal sebelumnya si gadis mengatakan ia sedang sendirian.

Merasa ditipu, Imran masuk dan ingin mengetahui sosok lain yang ada di dalam rumah tersebut. Dalam keadaan waspada dan melawan demam akibat malariannya ia masuk mengendap dengan pistol yang siaga di tangan. Kecurigaannya terjawab, sosok lain di rumah tersebut adalah serdadu NICA yang masih menggunakan seragam loreng Belanda. Imran merasa dijebak oleh si gadis, ia pun mencuragai bahwa gadis tersebut adalah mata-mata Belanda pula.

Ketegangan terjadi dalam suasana yang masuk dalam babak kedua drama ini. Cerita akhirnya berfokus pada pergulatan psikologis para tokoh. Si serdadu NICA itu mengatakan bahwa ia bergabung dengan Belanda karena menuntut balas darah atas kematian orang tuanya yang dulu dicuragai sebagai mata-mata Beanda karena teman ayah si serdadu sering didatangi oleh kawan lamanya, Willem yang seorang Belanda. Setelah kedatangan Willem, markas para pemuda yang tengah berjuang selalu digempur oleh patroli Belanda. Akhirnya pada suatu malam, rumah keluarga tersebut didatangi oleh para pemuda yang mencurigai bahwa keluarga tersebut adalah mata-mata Belanda dan mencoba mengkhianati republik. Ayah, Ibu, dan adik serdadu dibunuh. Ia selamat dalam malam penghancuran itu. Si serdadu merasa kecewa dan dendam, padahal keluarganya ikut berjuang untuk republik, ayahnya ikut bertempur, adik kecilnya bernama Nita pun menjadi relawan Palang Merah Indonesia.

Imran yang sebelumnya telah mengalami pergulatan jiwa karena perang dibawa dalam keadaan kontemplatif menghadapi keadaan tersebut. Ditambah ketika si serdadu minta diambil nyawanya karena merasa bersalah dan berkhianat. Pun ia sebelumnya tidak tahu bahwa ternyata ayah dan adik si gadis yang ditumpangi tersebut memanggil patroli Belanda. Ketika mendengar sayup-sayup suara truk patroli Belanda, ia semakin curiga bahwa si gadis menjebaknnya. Terjadi ketegangan hebat kala itu. Si gadis yang mencoba menjelaskan bahwa ia menolong si serdadu karena rasa kemanusiaan tanpa memandang siapa yang ia tolong, hampir diledakkan kepalanya oleh Imran.

Ketegangan itu luruh karena ketegaran si gadis menghadapi maut, ia menantang pistol yang ditodongkan Imran terhadapnya, seolah meyakinkan bahwa ia bukanlah pengkhianat. Ketika truk semakin mendekat, Imran akhirnya memutuskan untuk mengikuti pinta si gadis untuk bersembunyi di balik bukit, sekaligus memutuskan bahwa ia mempercayai bahwa si gadis tidak berkhianat. Dan si gadis memang tidak berkhianat kepada kemanusiaan.