Intro Text

Kelana Wisnu Sapta Nugraha is a researcher and investigative multimedia producer currently working as a program associate with a civil society organization. Using collaborative methods, technology, and various multimedia, his work—published across numerous outlets in Southeast Asia—focuses on the intersection of human rights, transnational crime, conflict, colonialism, and technology.



"Ya, apa boleh buat, tai kambing niscaya dibuat."


Dalam babak sejarah sastra modern Indonesia, Remy Sylado (23761)  bertengger bersama nama-nama lain yang membuat sastra menjadi wahana main-main: untuk mengkritik tentara, orang tua kolot, senioritas banal, kelakuan elite yang ugal-ugalan, bahkan menggoreng semua isu soal rezim Orde Baru lewat bait terlampau konyol untuk dicerna. 


Bersama majalah Aktuil ia mengibarkan panji mBeling, mengkritik rezim dan juga skena sastra Indonesia yang kala itu terlewat serius dan membosankan. Meski nafasnya takpanjang, corak puisi semacam ini sempat diakui dan membikin gaduh. Contohnya, kumpulan puisi Yudhistira ANM Massardi yang memenangkan penghargaan Dewan Kesenian Jakarta dianggap taklayak oleh para begawan sastra Indonesia kala itu.


Selain sebagai penyair mBeling, sejarah juga mencatatnya sebagai jurnalis musik, editor, ahli bahasa, musikus, penulis cerpen dan novel, dramawan, dan banyak lagi peran yang dihidupinya, banyak pula nama pena yang dipakai pria dengan nama lahir Yapi Tambayong ini. 


Masa mudanya yang tumbuh bersama dengan arah kebudayaan Demokrasi Terpimpin yang membatasi ekspresi diri berbau kolonial Barat, membuatnya merasa kehidupan monolitik tidak akan mendorong kesenian dan kebudayaan melaju. Saat masa otoriter Orde Baru, justru ketika keran budaya Barat terbuka, puisi mBeling terbit. Bukan berarti bentuk sastra semacam itu tidak bisa muncul pada periode sebelumnya, tapi bentuk itu adalah suatu siasat. Mereka mengambil jalan kritik banyolan yang kadang memancing pitam.


*


Remy yang telah beranjak tua mengingat masa-masa itu begitu detail. Lima tahun yang lalu kami bertemu di suatu sesi, di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjajaran, Jatinangor. Saya mendampinginya ke atas panggung penerimaan mahasiswa baru. 


Tak satu pun patah katanya yang meromantisasi pencapaian atau menyebut karyanya, yg mulai seukuran saku sampai sebesar bantal. Ia mengajak mahasiswa mengobrol keindonesiaan lewat teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tapi tentu saja dia membawakannya tidak seperti Penataran P4. Materi wicaranya kala itu merupakan perulangan, saya lantas bisa menebak kuncinya: hanya ada satu kata bahasa Indonesia dalam teks proklamasi.



Remy kala itu menunjukkan kemampuannya sebagai munsyi serta pembaca naskah sejarah yang tekun, alih-alih kakek-kakek legenda sastra. Lewat obrolan ringan berdasar pada sejarah bahasa, ia mengajak semua orang untuk merefleksikan fenomena globalisasi dalam artinya yang sangat luas. Bahasa Indonesia terbentuk dari cangkokan silang-saling budaya global, berutang banyak pada Melayu, Cina, Arab, Belanda, Latin, Portugis, Prancis dll. 


Selama ini, saya menemukan watak sudut pandang global pada sosok Remy Sylado. Dia adalah satu-satunya yang fasih menjelaskan asal-usul nada pentatonik Jawa yang dikenal slendro. Katanya, nama itu diambil dari dinasti Mataram Kuno yang masyhur, Syailendra. Suatu kali raja yang bosan ingin dihibur dengan seni bebunyian. Satu kelompok pemetik kecapi pun didatangkan langsung dari Cina.


Selain mampu menjelaskan genealogi atas suatu hal, perlu kita ingat Remy muda yang sering menyuarakan hal paling dekat dan menyayat. Kisah anak kecil ditinggal bapaknya, seorang bromocorah masuk penjara; teriakan pekerja seks hingga curhatan seorang medioker yang frustasi tak mampu beli kondom. Bagi sebagian mahasiswa sastra Indonesia, album Orexas (Organisasi Sex Bebas) merupakan titik kulminasi eksperimen lirik— penggambaran yang kadar ndakik-ndakiknya lebih sedikit: manifestasi cerita kenakalan remaja frustasi Orde Baru. 


Lebih mundur lagi, sewajarnya anak muda, ingatannya pada masa Sukarno cenderung biner. Ia adalah seorang yang merasa masa gemilangnya gerakan Kiri sebagai periode yang traumatis. Tapi ketika saya menanyainya soal kelompok musik Angkatan Darat yang dinaungi Urusan Moril, badan khusus yang mengurus soal indoktrinasi, dia menjawab lebih adil.


Ingatannya bahkan terasa masih segar, ia menceritakan marching band Angkatan Darat Kodam Siliwangi seolah baru melihatnya tampil kemarin. Ketika saya susulkan pertanyaan lain, apakah ia tahu peran Urusan Moril dalam mengakuisisi kelompok kebudayaan Kiri dan kemudian bertanggung jawab atas serangkaian propaganda militer lewat musik maupun budaya, ia menjawab: "Saya tahu."



Obrolan kami pada siang itu, kemudian berlanjut soal Kodam Siliwangi dan musik. Dia bilang, "saya beberapa kali menulis soal Uril, tapi tidak jadi fokus utama, mungkin di beberapa artikel." Saya penasaran apakah ia masih mengingatnya, tapi kemudian tersadar bahwa pertanyaan lebih spesifik akan sia-sia.



*


Saya selalu bertitip pesan kepada seorang kawan yang tekun membaca Aktuil, agar berkabar jika menemukan tulisan Remy soal Uril. Bertahun kemudian, kira-kira saat kabar Remy sakit beredar, artikel itu ketemu. Bukan dari majalah Aktuil, tapi majalah Top tahun 1976 koleksi digital Museum Musik Indonesia, Malang.


Remy pernah menulis musisi Kroncong Tony Sandjaja, yang bolak-balik Cirebon-Bandung lantaran merangkap jabatan sebagai personil band Kodam Siliwangi, di bawah Uril. Dia menuliskan kisah Tony dengan ironis, khususnya soal "kerja bakti"-nya untuk Kodam Siliwangi yang tak sepadan.


Sedangkan kalau dia menyanyi keroncong seperti acara-acara yang sering diselanggarakan Kodam Siliwangi, paling-paling dia hanya mendapat 3 sampai 5 ribu perak. Berapa jumlah penonton yang datang ke sana? Ternyata pol-polan hanya 25 orang. Padahal untuk pertunjukan ini, Tonny sudah berpayah-payah datang dari Cirebon ke Bandung. Ya, apa boleh buat, tai kambing niscaya dibuat.


Satu lagi ingatan saya soal Remy yang paling terbenam di kepala. Suatu kali, mesin propaganda Orde Baru alias Angkatan Darat meminta Remy membuat orkestra atau pertunjukan untuk mengalahkan popularitas Guruh Sukarno Putra agar orang-orang tidak teringat-ingat Bung Karno (Desukarnoisasi). Pendekar mBeling ini kelimpungan menjawab lalu sejurus kemudian berterus terang, "Izinkan saya untuk bekerja sama dengan Willibrordus Surendra Broto (WS. Rendra)."


Muka pejabat militer seketika ketekuk-melecur, Remy mengingatnya. Sebab, Rendra masih dicekal si penguasa perang kala itu.


Ketika Remy sudah pergi kini, saya telat menyadari satu hal. Dia pun, seperti beberapa aktivis budaya maupun seniman pasca-65, frustasi karena ditipu Orde Baru dan dibawa dalam keadaan yang terus menerus dalam ancaman "teror negara". Tapi mereka menyiasatinya dengan ironis, dengan metafora tengil dan dengan mBeling: nakal tapi berakal.




Dimuat pertama kali pada 2020


Dua abad yang lalu, tidak jauh dari Jatinangor, Patih Parakan Muncang diancam diseret ke Batavia jika ia masih bermalas-malasan; seorang mandor di Sumedang dikenai hukuman cambuk dengan rotan dan lima tahun kerja paksa karena lalai mengawasi perkebunan kolonial. 

Kedua catatan mengenai kaitan kemalasan dan orang Sunda itu ditulis oleh F. de Haan dalam Priangan, De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsh Bestuur tot 1811, jilid III cetakan tahun 1912.


Tujuh puluh tahun setelah kolonial Belanda hengkang dari Indonesia, di Jatinangor, seorang meener kulit coklat berkata, “orang Sunda teh malas karena alamnya yang sejuk.” Sebagai orang Sunda, ia menunjuk hidungnya sendiri.


Tahun lalu ketika saya pulang kampung ke Blitar, saya mendengar pernyataan serupa. Kali ini keluar dari mulut orang Jawa. Sahabat kecil saya berkata, “lebih untung mempekerjakan orang Jawa karena mereka lebih tekun daripada orang Sunda yang pemalas”. Konon, ia percaya bahwa trah Majapahit atau Mataram Kuno lah yang memiliki takdir sebagai pemegang kuasa di Nusantara. Pernyataan rasis, ahistoris, serta chauvinistik yang keluar secara serampangan itu perlu ditinjau. 

Stigma rasial itu tidak lahir dari kenyataan bahwa orang Sunda bersifat malas, tapi lebih rumit daripada itu.

Malas dan Mitos Cinta Kerja

Penyair Latin Virgil menulis sebuah ode yang memuja waktu luang, ia seolah merayakan kemalasan dan menyebutnya sebagai hadiah dari para Dewa, “O Melibae Deus nobis haec etia fecit” (Tuhan telah memberikan kita hari-hari yang menyenangkan ini).


Terjemahan mana suka dari baris puisi itu mungkin kurang tepat, tapi baris itulah yang dikutip oleh menantu Karl Marx, Paul Lafargue dalam bukunya The Right to Be Lazy (1883) yang menyorot kemalasan sebagai sebuah wacana konstruksi kapitalisme untuk menciptakan ilusi cinta bekerja. Senada dengan itu, Syed Hussein Alatas dalam The Myth of Lazy Native (1977) juga menerangkan bahwa mitos kemalasan pribumi adalah wacana yang lahir dari rahim kolonialisme.


Ilmuwan Malaysia yang lahir di Bogor itu mengatakan bahwa sedikit sekali catatan mengenai kemalasan di Jawa pada abad ke-16 dan ke-17—wilayah Priangan secara geografis adalah bagian dari Pulau Jawa. 


Mitos malas berkembang pada abad selanjutnya beriringan dengan penolakan bumiputera yang dikerahkan bekerja dalam program tanam paksa van Den Bosch. Alatas (1977) mengatakan bahwa kolonial menyebut para pribumi yang bekerja serta bekeringat untuk mereka adalah orang-orang yang membosankan, lamban, dan kekanak-kanakan. Van Den Bosch menyamakan kecerdasan bumiputera dewasa setara dengan perkembangan intelektual anak-anak Belanda yang berumur 12-13 tahun.


Menurut Lombard (2005) malas sebagai suatu bawaan lahir merupakan wacana yang dikembangkan oleh kolonial dalam mencari pembenaran terhadap aksi sepihak yang mereka lakukan. Wacana itu juga bertujuan untuk membentuk gagasan rasis terhadap bumiputera. Citra lancung bumiputera yang malas itu dibangun kolonial untuk melancarkan agendanya.

Agenda Kolonial dalam Tanam Paksa

Perang Jawa (1825—1830) membuat kas pemerintah kolonial terkuras. Kebijakan yang dibuat sebagai solusi untuk masalah itu adalah Cultuurstelsel. Pemerintah kolonial mengerahkan masyarakat Hindia—Belanda untuk menanami lahan mereka dengan tanaman komoditas ekspor.


Cultuurstelsel atau tanam paksa diyakini oleh para tokoh politik konservatif di Amsterdam sebagai solusi jitu untuk membangkitkan ekonomi tanah jajahan serta dapat menyumbangkan keuntungan bagi Belanda.


Pada 1791 ketika Revolusi Prancis masih segar di ingatan, seorang tokoh liberal, Dirk van Hogendrop mendesak pemerintah Belanda untuk menghapus kerja rodi, perbudakan, serta tanam paksa di tanah koloni. Ia memberi saran pada pemerintah Belanda untuk mengenalkan masyarakat jajahan terhadap sistem kerja dan perdagangan bebas.


Sebelas tahun kemudian, Gubernur Jendral Hindia—Belanda, Johannes Siber menyanggah gagasan itu. Ia mengajukan enam alasan dalam surat yang bertitimangsa 19 Mei 1802. Alasan pertama yang ia ajukan mengatakan, “orang Jawa terlalu malas dan lamban untuk memperoleh lebih dari yang mereka butuhkan untuk penghidupan”.


Dalam upaya mendorong perkembangan tanam paksa serta kerja rodi, pemerintah kolonial melakukan pembinaan masyarakat. Salah satu caranya dengan menertibkan sistem penanggalan dan waktu di Nusantara. Sebelumnya, penanda pergantian hari adalah pukulan bedug magrib saat malam turun, bukan pada tengah malam.


Peralihan penanda waktu dari wujudnya yang sakral menjadi profan pun menimbulkan masalah. Ia berpengaruh secara langsung terhadap denyut kehidupan masyarakat bumiputera, khususnya soal ketepatan waktu yang berkaitan dengan kerja. Pengaruh dari pembaratan waktu itu tidak berdampak baik bagi bumiputera. Pemerintah kolonial hendak memasung masyarakat jajahan dengan jerat perbudakan modern menggunakan waktu.


Dalam kacamata kolonial pemberadaban bumiputera bertujuan untuk menyiapkan tanah jajahan menuju negara modern. Beriringan dengan itu, ribuan hektar tanah di Priangan dibuka jadi perkebunan. Pemerintah kolonial mengubah tanah Priangan menjadi perkebunan tanaman komersial. Betapa pentingnya tanam paksa bagi pemerintah Belanda dapat dilihat dari hukuman yang diberlakukan kepada pejabat petinggi setempat yang dianggap menghambat.

 

 

Malas Sebagai Perlawanan Terhadap Kolonialisme

Mereka yang menghambat agenda kolonial adalah para pemalas. Kata luij (malas) dan ijverloos (seenaknya, tidak tekun) dapat ditemukan dalam arsip-arsip yang menyebut para mandor Sunda yang bertugas mengawasi perkebunan-perkebunan VOC. Perkebunan itu ditanami nila, lada, dan kopi. Anjuran penanaman yang telah ditetapkan oleh pemerintah kolonial tidak dapat dilawan. Pada 1791 dua Raden dibuang selama satu tahun ke Pulau Edam, Kepulauan Seribu karena tidak mengindahkan perintah penanaman kopi. Tabiat itu dicap sebagai kemalasan.


Hasil panen perkebunan di Priangan telah ditetapkan oleh pemerintah. Jika tidak memuaskan, mandor akan dihukum. Pada tahun 1706 salah satu mandor Jawa bernama Ombol dibuang ke Pulau Onrust karena “malas”, ia tidak cukup berhasil memaksa masyarakat di daerahnya untuk menghasilkan panen yang dihendaki oleh pemerintah.


Dalam tanam paksa para bumiputera dipaksa untuk giat. Jika didapati tidak sesuai dengan bayangan ideal kerja paksa menurut kolonial, para pemimpin di daerah tersebut lah yang bertanggung jawab. Pada tahun 1747, Bupati Cibalagung dihukum karena “ketidaktekunan“-nya (ijverloosheijt). Pada 1788 seorang patih Parakan Muncang, yang disinggung diawal, diancam diseret ke Batavia jika ia tetap “bermalas-malasan” (zodra hij weder den luijaart speelt).


Kelalaian menurut kacamata kolonial juga hasil dari sifat malas. Salah satu mandor di Sumedang, yang disebut di awal, dihukum pada tahun 1805 karena lalai mengawasi perkebunan. Pada 1800 seorang kepala desa di Karawang kakinya dirantai, beberapa desa dan pengawasnya dihukum dengan rantai karena “malas”.

Catatan hukuman tersebut adalah akar dari stigma kemalasan orang Sunda.


Penggambaran orang Sunda atau Jawa sebagai pemalas memiliki fungsi penting dari ideologi kolonial. Malas adalah delik dari setiap hukuman yang dijatuhkan kepada mereka yang tidak menguntungkan serta menghambat agenda pemerintah kolonial. Tidak mengindahkan aturan, tidak dapat memenuhi hasil panen seperti yang telah ditetapkan, ketidaktekunan dalam bekerja, lalai dalam mengawasi perkebunan, serta segala masalah yang menghambat produksi tanam paksa dianggap sebagai perlawanan terhadap kolonial.


Alih-alih melihat masalah tersebut secara struktural, pemerintah kolonial memilih untuk melihatnya sebagai masalah yang homogen dan negatif, karena malas. Sayed Hussein Alatas (1977) mengatakan bahwa sifat malas orang Jawa merupakan perlawanan terhadap kolonialisme. 


Senada dengan itu, Eduard Douwes Dekker, seorang humanis Belanda, menggunakan nama pena Multatuli menulis antitesis terhadap pandangan sebangsanya di dalam novel besarnya Max Havelaar (1860) mengatakan bahwa sikap acuh tak acuh bumiputera terhadap perintah tanam paksa pemerintah kolonial adalah perlawanan diam-diam.

Mengapa Orang Sunda Malas

Citra malas dibuat oleh kolonial untuk membuat masyarakat Nusantara menyesuaikan diri dengan model kerja Eropa. Penyesuaian waktu, serta segala hal yang berkaitan dengan agenda untuk mengadabkan para pribumi dalam sudut pandang kolonial bertujuan untuk pengerahan kerja paksa.


Beberapa catatan yang berasal dari Priangan mengenai kemalasan orang Sunda itu adalah akar dari stigma rasial yang sampai saat ini masih melekat terhadap orang Sunda. Dengan alasan apa pun, sifat manusia sama sekali tidak berhubungan dengan etnis atau ras.


Stigma rasial mengenai orang Sunda yang bersifat pemalas adalah wacana buatan kolonial untuk mengarahkan bumiputera terhadap ilusi cinta kerja paksa. Wacana kemalasan pribumi penting bagi kolonial untuk melancarkan Ideologinya. Predikat itu sama sekali tidak berkaitan dengan bentang alam atau alasan tidak masuk akal lainnya.


Bagi orang-orang yang masih melekatkan predikat pemalas terhadap orang Sunda atau Jawa, itu berarti ia melakukan generalisasi yang brutal. Gagasan ini lahir karena kurangnya empati, berkembang dari prasangka yang sombong. Secara tidak sadar pula, stigma rasial itu keluar dari orang-orang yang pikirannya didominasi oleh gagasan kolonial Eropa Barat.

 

 

 

Lukisan adalah suatu karya seni dua dimensi yang menghadirkan subjeknya secara visual, yang bersamaan dengannya pula hadir suatu hal, ide, atau peristiwa familiar yang terkadang tidak memiliki koneksi secara langsung dengan pengalaman kita. Dari yang kita lihat dari lukisan, kita kerap terinspirasi, mendapatkan informasi, serta merasakan kenikmatan dalam bentuk apa pun.[i] Tetapi, kadang pelukis juga menjadikan dirinya sendiri sebagai subjek untuk membahasakan suatu hal yang mungkin melampui keberadaanya secara visual. Dengan kata lain, untuk menyampaikan dirinya bersama perasaan yang sedang dialami, pun terkadang dilakukan sebagai suatu latihan olah komposisi. Van Gogh adalah salah satu pelukis yang melakukan cara kedua, karena ia tidak sanggup untuk membayar model untuk dilukis. Tapi justru berkat itu, potret dirinya tanpa kumis, brewok, dan jambang yang ia kerjakan sebelum meninggal, menjadi karya potret diri paling mahal yang pernah dijual selama ini.[ii] Selain itu, potret diri juga menawarkan pelbagai kemungkinan komunikasi lainnya.


Seorang pelukis mungkin tidak hendak menjadi fotografer ketika melukiskan potret-diri. Cara itu kurang lebih dilakukan pelukis untuk menjadikan lukisan sebagai rekam jejak untuk menampakkan identitas dirinya, seperti yang dilakukan oleh Frida Kahlo[iii]. Ia menjadikan potret diri sebagai lembar dokumen pengejawantahan perasaanya, juga sebagai rekam jejak hidupnya. Tidak kurang dari dua lusin potret-diri telah dibuat oleh pelukis Meksiko ini. Pada setiap periode, berbeda pula kecenderungan corak dari potret dirinya, berbeda pula perasaan yang ingin ia bebaskan dari kepalanya.

Bagaimana Frida menjadikan tumpukan kesedihannya menjadi karya serta latar belakang sosial-ekonomi-politik di balik setiap karyanya, terekam dengan apik dalam film yang disutradarai oleh Julie Taymor berjudul Frida (2002). Film berdurasi selama 123 menit ini dapat dijadikan pengantar untuk mengenal Frida lebih jauh, serta untuk membaca lebih lanjut mengapa ia cenderung melukis potret-diri. Bersama Salma Hayek, kita akan mengenal potret Frida yang emosional.



Alur Film Frida

Dari rumah birunya (Casa Azul) di Coyoacán, beberapa orang dengan begitu hati-hati menggotong tempat tidur yang juga tandu bagi si sakit yang berbaring di atasnya, Frida Kahlo. Mereka berusaha dengan teliti mengantarkannya bersama tempat tidurnya itu ke suatu tempat, pada suatu acara yang tidak ingin dilewatkannya, padahal saat itu ia tengah berjuang menghidupi saat-saat terakhir dalam hidupnya. Dari situlah film ini bermula. Selanjutnya, dari sebuah kaca di atas ranjang Frida, penonton disedot untuk masuk ke dalam cermin yang akan menyorot balik pengalaman kecil Frida dari masa remaja sampai saat itu, ketika ia telah dikenal sebagai pelukis besar dunia.

Frida adalah seorang mahasiswi kampus favorit yang tengah mengalami puncak pubertas. Ia gemar bercinta serta giat dalam berorganisasi. Selanjutnya, plot penentu cerita langsung dihadirkan, kecelakaan dalam angkutan kota yang menimpa Frida kelak akan menjadi penentu hidup si gadis Meksiko yang begairah ini.

Film yang didasarkan pada buku biografi Frida: A Biography of Frida Kahlo (1983) yang ditulis oleh Hayden Herrera ini kemudian mengisahkan perjuangan Frida melewati masa pemulihannya pascakecelakaan yang memberi bekas luka tusukan di punggung, mematahkan tulang punggung serta kaki kanannya. Masa itu adalah awal mula Frida mulai melukis, ayahnya memberi kanvas untuk menangkal kebosanannya.

Setelah sembuh, Frida tidak memikirkan kuliahnya lagi dan ingin melanjutkan proses kreatifnya dalam melukis. Ia memiliki garis darah seni dari ayahnya yang berdarah Jerman, yang pernah bekerja sebagai fotografer. Diego Rivera adalah orang yang ia temui untuk dimintai pendapat, apakah dengan kemampuan serta hasil lukisannya Frida layak untuk lanjut melukis atau berhenti sama sekali. Pelukis komunis Meksiko yang pernah ia rundung saat membuat mural di kampusnya dulu itu mengatakan bahwa Frida perlu melanjutkan kerja keseniannya. Lalu, hubungan keduanya sebagai kolega dalam berkesenian itu pun berlanjut pada sebuah pernikahan. Frida menikah dengan Diego yang telah meninggalkan dua janda.

Kehidupan pasangan ini diselimuti oleh drama perselingkuhan. Diego adalah seorang yang doyan dengan perempuan, terlebih untuk keperluan model untuk lukisan-lukisannya. Frida tahu akan tabiat pelukis tambun itu sebelum menikah. Diego pun juga telah berjanji untuk loyal kepada istrinya yang ia sering ia panggil Fridoca itu. Tetapi, perselingkuhan demi perselingkuhan tidak dapat mereka hindarkan, Frida yang biseksual pun pernah terlibat perselingkuhan dengan seorang perempuan yang juga menjadi selingkuhan Diego pada waktu bersamaan.

Sebagai seorang petinggi partai komunis Meksiko, Diego sering terlibat adu gagasan politik serta komitmen dalam berkesenian. Latar belakang itulah yang membuatnya terbawa dalam serangkaian intrik dan tuduhan dalam politik nasional, yang kelak juga membuatnya dituduh sebagai dalang di balik pembunuhan Leon Trotsky. Ia pun jenuh lalu memilih keluar dari Meksiko dan pergi ke Amerika. Negeri imperialis musuh para negara komunis itu pun menyambut pelukis Kiri terbesar pada masa itu dengan gempita. Suatu tawaran dari Rockefeller dialamatkan kepadanya. Ia diminta untuk membuat sebuah moral di Rockefeller Center. Diego menerima tawaran itu, tetapi ia tidak mau membuang visinya tentang anti privatisasi ekonomi itu.




Sketsa mural yang ia kerjakan untuk Rockefeller itu sebelumnya telah disetujui, tetapi di tengah jalan, lembaga yang belakang diketahui mendukung gerakan antikomunis di seluruh dunia itu meminta Diego untuk mengubah wajah Lennin beserta tokoh komunis lainnya yang ada dalam muralnya. Sebagai orang yang memegang teguh keloyalannya terhadap visi kerakyatan, Diego menolak. Penolakannya itu pun berujung pada demonstrasi orang-orang Amerika yang tidak sepakat dengan komunisme. Setelahnya, datang surat pemberhentian kontrak beserta bayaran penuh seperti yang dijanjikan sebelumnya. Muralnya yang setengah rampung di dinding Rockefeller pun dihancurkan. Diego pun marah besar karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Kejadian ini membuatnya menjadi depresi tak karuan. Ia bersama Frida memutuskan untuk kembali ke Meksiko.

Pada masa kejatuhan ini, Frida memergoki suaminya berselingkuh dengan adiknya sendiri. Keduanya terlibat pertengkaran hebat. Karena kejadian ini Frida berubah menjadi seorang alkoholik pemurung. Ia memutuskan pergi ke Paris, Prancis untuk meredakan kemurungannya itu. Tetapi, bertualang tanpa Diego membuatnya kesepian. Sekembalinya ke Meksiko, Diego menawarkan perceraian. Keduanya berpisah.




Perdamaian antara Frida dan Diego terjadi ketika salah satu petinggi Partai Komunis Rusia, yang juga terlibat dalam Revolusi Oktober, Leon Trotsky datang ke Meksiko untuk mencari suaka dari ancaman pembunuhan Stalin. Diego pun membantu menyembunyikan seorang yang disebut Stalin sebagai pengkhianat revolusi ini di rumah Frida. Si kakek komunis tua ini pun menjadi akrab dengan Frida. Meskipun tua, libidonya tetap menyala, terlebih karena kegelisahannya menghadapi ancaman serta bayang-bayang akan kematian, menjadi suatu alasan dari akumulasi libidonya itu. Ia pun terlibat hubungan badan dengan Frida. Kelak, Diego sangat sakit hati karena Frida terlibat main serong dengan orang yang ia kagumi serta hormati. Tetapi, Frida pun membalas. Ia juga ia merasakan hal yang sama ketika memergoki Diego bersetubuh dengan adiknya.




Luka yang ditinggalkan karena kecelakaannya pun membuat Frida menghadapi sisa hidupnya melawani rasa sakit yang sering kambuh dan semakin memburuk. Kaki kanannya juga terpaksa diamputasi karena gangren. Sisa hidupnya kembali dihabiskan di atas kasur. Diego pun datang kembali  untuk mengajaknya rujuk, lalu keduanya bersatu dalam ikatan pernikahan untuk kedua kalinya. Sebelum meninggal, Frida sempat melakukan pameran tunggal di kota asalnya. Pameran ini menjadi sangat penting baginya, karena selama ini ia tidak pernah ingin membuat pameran tunggal di luar negeri, tetapi keinginan terbesarnya adalah dilihat oleh masyarakatnya sendiri. Pelukis wanita yang menggambarkan penderitaannya dengan tajam, tegas, sekaligus lembut yang tak putus dirundung malang, kecelakaan, keguguran, dan lain lain ini pun mangkat dengan sukacita, tulisnya, “I joyfully await the exit – and I hope never to return.”

***

Frida lahir tiga tahun sebelum Revolusi Meksiko, tetapi kelak ia meromantisir hidupnya dengan revolusi itu dengan mengubah tahun lahirnya untuk menepatkan dengan momen itu. Dalam akta kelahirannya ia tercatat lahir pada tanggal 6 Juli 1907, selanjutnya tahun itu diganti menjadi 1910. Revolusi Meksiko adalah suatu momen yang memang bisa jadi kebanggaan bagi Frida untuk menempatkan dirinya dalam gelombang politik yang kelak disebut mempelopori negara lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam revolusi, Frida adalah salah satu perempuan Meksiko yang memiliki kesadaran untuk terlibat secara langsung dengan produksi kulturil dalam revolusi itu.[iv]

Gejolak revolusi itu tidak nampak secara gamblang dalam film ini, tetapi dapat dilihat dari bagaimana keluarga Frida mengalami krisis. Ayahnya juga mengalami kesulitan uang ketika Frida harus mengalami masa pengobatan. Ketika ia ingin memotret lagi, melanjutkan pekerjaannya dulu, ia pun sempat ragu bahwa ada yang akan memakai jasanya. Masa revolusi membuat kebanyakan orang tidak mampu mengakses hal-hal yang di luar kebutuhan pangan. Tetapi, Frida tumbuh besar pada masa penataan ulang sebuah sistim pemerintahan yang baru menjanjikan masa depannya beserta anak-anak lain yang sesusianya.

Perubahan saat itu belum terjadi secara keseluruhan, soal kesetaraan dalam mendapatkan pendidikan misalnya, masih sedikit perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Rata-rata mereka hanya sampai sekolah menengah atas saja, Frida adalah salah satu yang beruntung. Ayahnya, Guillermo menyadari kejeniusan anakanya itu dan mengizinkan Frida untuk melanjutkan pendidikan tinggi, ia pun juga membiarkannya bebas memilih, Frida memilih kampus yang rata-rata mahasiswanya adalah laki-laki, ia masuk ke Escuela Nacional Preparatoria (National Preparatory School).

Ia pun juga bertemu dengan seorang peluis besar Meksiko yang memilih meninggalkan gaya lukis kubistiknya dan mencoba menggali akar dari kenyataan sosial di Meksiko waktu itu. Pelukis yang memilih meneruskan jalannya dengan membawa gagasan Revolusi Meksiko itu pun mampu membuat Frida jatuh cinta pada pandangan pertama. Pada saat itu pula Frida bercerita kepada teman-temannya, ia bersumpah bahwa kelak akan menikahi Diego Rivera. Lelaki yang dipujanya itu.

Meningkatnya jumlah pengangguran, kelaparan akibat gagal panen yang melanda Meksiko, dan serangkaian masalah yang diakibatkan oleh sistem ekonomi liberal yang menguntungkan segelintir pihak saja adalah beberapa faktor yang memengaruhi revolusi Meksiko.[v] Jadi tidak heran jika Frida juga terlibat dalam gelombang itu, yang nantinya juga memengaruhi ia untuk terlibat aktif dalam Partai Komunis Meksiko, terlepas juga keterpengaruhan dari Diego Rivera. Agak terlalu menyerdehanakan masalah jika mengaitkan hubungan keduanya terhadap keputusan Frida masuk partai. Frida adalah orang yang memang peka terhadap sekitar dan ia memasuki partai memang karena kesadaran politisnya.

***

Seperti yang telah disinggung dalam penceritaan alur, pada tahun 1933 Nelson Rockefeller mempromosikan Rivera untuk mengerjakan sebuah lukisan mural untuk Rockefeller Center. Memberi dukungan terhadap seniman sayap kiri adalah hal yang umum dikerjakan oleh lembaga filantropi dunia yang juga berada di balik kerja kebudayaan CIA dalam memerangi wacana komunisme dalam Perang Dingin. Tak heran jika ibu Nelson, Abby Aldrich Rockefeller pernah berpendapat bahwa orang merah akan berhenti menjadi merah jika kita bisa mendapatkan pengkuan artistiknya.[vi] Ketika melakukan inspeksi pada lukisan Diego, Nelson Rockefeller yang dalam film diperankan oleh Edward Norton mendapati salah satu figur dalam lukisan itu yang menggambarkan Vladimir Ilich Lenin. Ia meminta Diego untuk menghapus itu, tetapi ditolak oleh Diego. Di dalam film, juga digambarkan bagaimana Diego telah mengatakan bahwa ia adalah seorang pelukis yang pro terhadap hak komunal. Karena penolakannya itulah, pesanan mural untuk tembok Rockefeller Center dibatalkan, Diego dibayar lunas sesuai perjanjian sebesar $21.000. Karya Rivera yang hampir selesai itu dihancurkan pada bulan Februari 1934.   




Film berdurasi 123 menit ini mampu memilih plot-plot penting dalam hidup Frida untuk mengambarkan bagaimana proses perjalanan si pelukis menemukan gaya serta alasan di balik lukisannya yang terkesan sureal itu. Alur sangat padat yang dibangun pun mampu menemukan benang merah yang merangkum seluruh cerita Frida Kahlo tanpa terkesan melompat-lompat, seperti yang sering saya jumpai ketika menonton film biografi murahan, seperti Chrisye kemarin misalnya. Julie Taymor pun tidak menyelesaikannya secara terburu-buru, dibangun dengan tenang meski sangat cepat, film ini mampu menggambarkan semua kesedihan Frida Kahlo yang ia tumpahkan ke dalam setiap lukisannnya. Setiap lukisan yang memiliki jejak sejarah terhadap hidup Frida, dihadirkan sebagai pintu masuk untuk setiap cerita penting yang disajikan.

Tambahannya lagi, film ini juga memberikan kesan sosio-politis yang genit tapi tetap apik. Kita dapat membicarakan semua hal yang berkaitan dengan Frida lewat film ini. Selamat ulang tahun, Frida~






[i] Soal pengertian atau definisi tentang lukisan, lihat W. Stanley Taft and others, The Science of Paintings (New York: Springer, 2000), p. 2.
[ii] Awalnya lukisan potret-diri adalah hal yang tabu dilakukan, tetapi setelah Abad Pencerahan gaya ini menjadi populer, terutama setelah Albrech Duhrer membuat banyak potret diri tentang dirinya. Lihat Kim Hart, ‘10 Masters of the Self-Portrait, from Frida Kahlo to Cindy Sherman’, Artsy, 2018 [diakses 2 Juli 2018].
[iii] Claudia Schaefer, Frida Kahlo: A Biography, Greenwood Biographies (Westport, Conn: Greenwood Press, 2009), hlm 92.
[iv] Mengenai peran perempuan dalam Revolusi Meksiko lihat Tabea Alexa Linhard, Fearless Women in the Mexican Revolution and the Spanish Civil War (Columbia, Mo.: University of Missouri Press, 2005), p. 68.
[v] Lebih lanjut, lihat William H. Beezley and Colin M. Maclachlan, Mexicans in Revolution, 1910-1946: An Introduction (UNP - Nebraska Paperback, 2009), p. 3 .
[vi] Lihat Frances Stonor Saunders, The Cultural Cold War: The CIA and the World of Arts and Letters (New York: New Press : Distributed by W.W. Norton & Co, 2000), p. 258.

Refrensi:

Beezley, William H., and Colin M. Maclachlan, Mexicans in Revolution, 1910-1946: An Introduction (UNP - Nebraska Paperback, 2009)
Hart, Kim, ‘10 Masters of the Self-Portrait, from Frida Kahlo to Cindy Sherman’, Artsy, 2018 [accessed 2 July 2018]
Linhard, Tabea Alexa, Fearless Women in the Mexican Revolution and the Spanish Civil War (Columbia, Mo.: University of Missouri Press, 2005)
Saunders, Frances Stonor, The Cultural Cold War: The CIA and the World of Arts and Letters (New York: New Press : Distributed by W.W. Norton & Co, 2000)
Schaefer, Claudia, Frida Kahlo: A Biography, Greenwood Biographies (Westport, Conn: Greenwood Press, 2009)
Taft, W. Stanley, James W. Mayer, Richard Newman, Dusan Stulik, and Peter Ian Kuniholm, The Science of Paintings (New York: Springer, 2000)

 



Judul: Affandi Pelukis
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Nyala
Tahun: September, 2017
Cetakan: Pertama
Tebal: 97 halaman
ISBN: 978-602-60855-6-6

Atas keramaian dunia dan cedera,
Lagak lahir dan kelancungan cipta,
Kau memaling dan memuja
Dan gelap-tertutup jadi terbuka!

(Chairil Anwar, Kepada Pelukis Affandi, 1946)

Si “buruk rupa” Bambang Sukrasana itu dicatet dan dapat tempat dalam sajak-sajak Chairil, "Kepada Pelukis Affandi"’ dan "Betina"-nya Affandi". Si Binantang Jalang itu seolah sangat kagum dengan kesetiaan Sukrasana terhadap kerja dan pencapainnya memindahkan Taman Sriwedari milik Dewi Sri itu ke bumi. Dan gelap tertutup jadi terbuka, Affandi “tukang gambar” menempati “menara tinggi”, tempat yang diinginkan juga oleh Chairil seperti yang ia tulis, Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti / kecemasan derita, kecemasan mimpi; / berilah aku tempat di menara tinggi, / di mana kau sendiri meninggi //  Tidak hanya Chairil, Nasjah Djamin pun membuat sebuah novel pendek berjudul Affandi Pelukis untuk pembaca yang seumur dengan Agus, tokoh utama dalam cerita, yakni anak-anak.

Dalam novel pendek ini dikisahkan bahwa ibu guru memuji gambar Agus dan berharap anak didiknya itu kelak menjadi pelukis seterkenal Affandi. Agus yang duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar menjadi penasaran karena ibu gurunya menyebut Affandi mendapatkan gelar doktor dari Universitas Singapura. Ia heran. Bagaimana seorang pelukis bisa mengobati orang lain? Agus tidak paham dengan gelar doktor (Honoris Clausa) yang dimaksudkan oleh ibu gurunya itu berbeda dengan dokter sebagai profesi mengobati orang. Penasarannya inilah yang membuatnya bertanya kepada orang tuanya tentang Affandi dan bagaimana bisa seorang pelukis menjadi dokter?

Agus dan keluarganya tinggal di kampung, sekitar 10 km di utara Yogyakarta, di sebuah desa di Kaliurang, lereng gunung Merapi. Orangtuanya adalah seorang petani. Mereka tidak bisa menjawab rasa penasaran Agus karena tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Orang tua Agus menyarankan anaknya itu untuk bertanya kepada pamannya yang kuliah di Fakultas Sastra, UGM. Paman Agus tidak jarang mampir ke rumah Agus jika pulang kampung. Secara kebetulan, pada kepulangannya yang terakhir, pamannya membawa lukisan Agus untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba gambar majalah anak-anak di Jakarta.

Pamannya itu pulang dengan membawa kabar gembira, setelah sekian lama Agus menunggu dengan resah. Lukisan Agus berhasil menjadi juara dalam perlombaan tersebut. Ia mendapat hadiah dan tabungan senilai lima ribu rupiah. Rasa penasarannya terjawab segera setelah pertanyaan yang mengganggu pikirannya tersebut dijawab pamannya. Mengetahui keponakannya sangat penasaran dengan sosok Affandi, Agus diajaknya jalan-jalan ke museum Affandi.

Pada hari Minggu paman menepati janjinya untuk membawa Agus turun mengunjungi museum Affandi. Ternyata museum sedang tutup, dan Affandi tidak ada di rumah. Akan tetapi Agus tidak kecewa, ia cukup puas dapat mengunjungi rumah seorang pelukis besar yang didongengkan gurunya di kelas itu. Ia pun heran dengan segala kondisi rumah Affandi yang tak lazim sebagai rumah seorang yang besar, hal yang membuat Agus merasa janggal adalah tempat duduk untuk para tamu yang terbuat dari bamboo, dan tempat duduk itulah yang disinggahi orang-orang penting. Kesederhanaan hidup Affandi inilah yang menjadi bahan obrolan antara Agus dan pamannya ketika pulang dari museum.

Agus dan pamannya tidak langsung kembali ke desa tetapi menemui kawan paman, mbak Juminten. Sebuah naskah cerita tentang Affandi untuk anak-anak tengah digarap oleh mbak Juminten. Paman menyarankan Agus untuk membaca naskah tersebut untuk meredakan rasa penasarannya serta untuk mengukur apakah naskah tersebut mampu dicerna baik oleh anak-anak seperti yang dikehendaki oleh penulisnya. Naskah tersebut berjudul “Pelukis Besar Affandi”.

Pelukis Besar Affandi

Affandi berasal dari latar belakang keluarga dengan kondisi keadaan ekonomi yang kurang dari cukup tapi tidak juga miskin. Ayahnya yang bernama Kusuma bekerja sebagai seorang juru gambar peta di perkebunan tebu milik Belanda. Affandi lahir dari Rahim istri kedua ayahnya, Radjem. Bersama keenam saudara kandungnya yang lain, Affandi hidup rukun dengan keluarganya. Dengan keadaan ekonomi yang tidak cukup berada, pak Kusumah ingin menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Belanda.

Selazimnya anak-anak lain, suka adu jotos, bermain, dan juga nakal adalah Affandi. Suatu saat desanya terkena sebuah wabah cacar, dan mengakibatkan empat saudaranya meninggal. Bencana itu menyisakan Affandi dengan dua orang kakaknya: Abu Bakar dan Ir. Sabur, dan bekas luka dari cacar itu membuat mukanya menjadi buruk rupa. Kondisi inilah yang membuat Affandi menganggap dirinya sebagai Sukrasana dalam cerita wayang yang buruk rupa.

Kegemarannya menggambar sudah kelihatan pada masa kanak-kanaknya itu, ia lebih suka menggambar daripada belajar materi yang diterimanya di sekolah. Ayahnya yang ingin anak-anaknya menjadi orang yang lebih tinggi martabatnya dari dirinya tidak suka dengan kebiasaan Affandi itu, yang terkadang membuatnya lupa untuk belajar.

Setelah selesai belajar di HIS Cirebon, Affandi melanjutkan sekolah ke MULO Bandung. Pada masa inilah kegemarannya dalam menggambar semakin bersinar, ia makin sering berlatih dan mengasah kemampuannya dalam menggambar. Setelah dari MULO ia ingin melanjutkan sekolah ke Belanda untuk mempelajari lebih lanjut mengenai seni lukis. Saat itu, belum ada sekolah kesenian di Indonesia.

Ayahnya meninggal pada tahun 1929, kakaknya Ir. Sabur menggantikan peran ayahnya tersebut dalam menopang keberlanjutan hidup Affandi. Keinganannya untuk melanjutkan sekolah gambar ke Belanda ia utarakan kepada kakaknya. Ir. Sabur menolak untuk membiayai jika Affandi mengambil kekhususan tersebut, ia ingin adiknya menjadi insinyur. Maklum, saat itu profesi ahli gambar belum menjadi sesuatu yang menjanjikan bahkan sama sekali tidak pernah dibicarakan oleh para-para masyarakat di negeri Hindia-Belanda; tidak seperti hari ini, orang tua tidak terlalu ragu untuk menerima lamaran seorang pelukis atau seniman.

Pada tahun 1933 Affandi menikah dengan Maryati. Ia bekerja sebagai tukang reklame di bioskop ‘Elite’ dekat alun-alun Bandung untuk memenuhi kebutuhan hidup, terkadang juga bekerja sebagai tukang tiket di bioskop tersebut. Dari sinilah hidupnya yang sangat sederhana digantungkan.Affandi berlangganan susu untuk Kartika, anaknya yang baru lahir. Saban hari tukang pengantar susu langganannya mengamati Affandi melukis, yang biasanya dikerjakan oleh Affandi di halaman rumah. Terkadang tukang pengantar susu itu sampai lupa untuk mengantarkan susu ke tempat lain karena keasyikkan melihat Affandi berjibaku dengan cat dan kanvas. Iba dengan keadaan si tukang susu itu, Affandi bertanya apakah ia suka menggambar? Tukang susu itu segera menjelaskan bahwa ia sangat gemar menggambar. Di rumahnya ia sudah menyimpan beberapa hasil karyanya. Mendengar jawaban yang semangat tersebut Affandi memberinya sisa cat yang selesai ia pakai kepada si tukang susu itu. Keesokan harinya, tukang susu itu tidak mengantarkan susu lagi ke rumah Affandi. Tukang yang mengantar sudah berganti. Suatu hari tukang susu itu datang lagi dan membawa hasil lukisannya, ia melukisnyua menggunakan sisa cat pemberian Affandi. Inilah perjumpaan pertama kedua maestro lukis yang kelak menjadi tonggak sejarah seni lukis modern Indonesia. Tukang susu itu bernama Soedarso.

Saat masih di Bandung kebetulan Basuki Abdullah baru saja pulang dari Belanda setelah menyelesaikan sekolah gambarnya. Karena ingin mendapatkan seorang yang setidaknya bisa dijadikan lawan tukar pikir atau pembimbing dalam perjalanan kesenian, Affandi menemuinya. Sesampainya di depan rumah Basuki Abdullah, Affandi disambut oleh pembantu. Ia dipersilakan untuk menunggu sebentar sementara pembantu itu menanyakan apakah tuannya dapat ditemui. Di luar Affandi mendengar Basuki bertanya kepada pembantunya apakah orang yang ingin menemuinya tersebut dapat berbahasa Belanda? Percakapan yang terdengar sampai luar pintu itu membuat Affandi kecewa, padahal Affandi bisa berbahasa Belanda berkat pendidikannya di sekolah Belanda. Ia pun diam-diam meninggalkan rumah itu dan meneruskan belajar menggambar secara otodidak.

Affandi bergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang dipelopori oleh S. Sudjojono yang saat itu sebagai sekretaris dan diketuai oleh Agus Djajasuminta. PERSAGI yang menjadi tempat berkumpulya pelukis-pelukis Indonesia, yang tidak diakui sebagai pelukis oleh orang-orang kulit putih. Bangsa Belanda hanya mengakui, Basuki Abdullah sebagai pelukis yang ulung. Sementara pelukis-pelukis Indonesia lainnya dianggap hanya “Inlander” saja yang tidak mengerti seni. (hlm.67) Di tempat inilah Affandi dapat belajar banyak dari pengalamannya bergulat bersama dengan para pelukis Indonesia lainnya yang mencoba menemukan corak seni rupa Indonesia di bawah bimbingan S. Sudjojono.

Pada tahun 1940 dalam pameran tunggalnya di Jakarta, lukisan Affandi dibeli oleh Safei Sumarja, seorang juru gambar yang baru kembali dari Eropa setelah lulus di Akademi Seni Lukis. Dari sinilah semangat dan tekad Affandi untuk terus menggambar semakin mantap. Safei Sumarja juga mengungkapkan bahwa Affandi adalah pelukis yang mempunyai harapan. Kelak perkataan Safei Sumarja yang hampir mirip sebuah ramalan itu tepat dan sama sekali tidak salah.

Banyaknya pelukis dan pemahat yang ahli di Bali membuat Affandi tertarik untuk mengunjunginnya. Di Bali juga tinggal pelukis-pelukis asing semisal, Le Mayeur, pelukis asal Belgia, tinggal dan melukis di pantai Sanur, atau Bonnet dari Swiss yang tinggal di Ubud. Banyak sekali fenomena yang cocok sebagai bahan lukisan Affandi di pulau dewata itu. Ia melukis penari-penari Bali, perahu-perahu di pantai, adu jago, dlsb. Ketika Perang Pasifik pecah ia kembali lagi ke Jakarta.

Pada masa Pendudukan Jepang Affandi bergabung dalam Pusat Tenaga Rakyat di bawah pimpinan empat serangkai (Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, K.H. Mas Mansoer). Di sini Soekarno dkk. menggembleng rasa kebangsaan para seniman dan aktivis kebudayaan lainnya. Berkumpul para sastrawan, komponis, dan pelukis di dalamnya. Saat itu Jepang menghendaki para pelukis-pelukis untuk membuat pameran yang menunjukkan kegiatan “romusha”, dengan penggambaran pekerja-pekera sukarela yang sigap , tegap, dan kuat. Tapi Affandi menolak  untuk melukis seperti kemauan Jepang karena apa yang dikehendaki oleh Jepang tidak sesuai dengan kenyataan yang ia lihat. Ia melukiskan para romusha itu kurus kering, lapar, compang-camping, dan terlihat penyakitan. Sikapnya inilah yang membuat Jepang marah-marah.

Affandi dan para pelukis lainnya kembali ke Jogja bersamaan dengan dipindahkannya sementara ibukota republik ke Yogyakarta—setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta balatentara Belanda datang lagi untuk menguasai republik dan Jakarta menjadi tidak aman. Di Yogyakarta ia mendirikan organisasi Seniman Masyarakat yang kelak dilebur jadi “Seniman Indonesia Muda” (SIM). Di situ berkumpul para pelukis seperti S. Sudjodjono, Soedarso, Oesman Effendi, Soediardjo, Hariyadi, dan S. Soparto Sanggarnya terletak di Alun-alun Utara dekat bioskop Soboharsono.

Ia pun turun ke medan pertempuran. Di Karawang ia melukiskan lukisan “Berunding”. Lukisan empat orang laskar di rumah desa sedang meneliti peta. Memakai topi pandan dan ikat merah putih. Lukisan ini dibeli oleh Presiden Soekarno, dengan cara bayaran mencicil. Lukisan lain ialah “Mata-mata Musuh”. Seorang mata-mata Belanda tertangkap di Kerawang oleh laskar. (h.76) 

Ketika Agresi Militer Belanda II meletus di Yogyakarta, para pelukis dan seniman mengungsi ke Jakarta. Affandi tidak ikut rombongan tersebut yang berangkat awal itu, ia baru menyusul ke Jakarta setelahnya. Bersama pelukis dan seniman lainnya ia ditampung oleh Pak Said di  garasi Taman Siswa. Di situlah ia bertemu kelak ia akan menggambar sosok Chairil.

Pada tahun 1946 Chairil menulis sajak "Kepada Pelukis Affandi" dan ""Betina"-nya Affandi". Nasjah Djamin dalam bukuya yang lain, Hari-hari Akhir Si Penyair pernah mengisahkan bahwa suatu hari Chairil meminta dilukis oleh Affandi. Sebetulnya Affandi jarang mau untuk melukis orang lain yang tidak mengetuk perasaannya, dan pula ia tidak pernah melukis orang besar selain Chairil. Namun melihat Chairil, Affandi merasakan hal yang sama dengan dirinya: seorang compang-camping yang betul-betul menyerahkan hidupnya untuk berkesenian. Affandi kesusahan untuk menyelesaikan lukisan tersebut karena sifat Chairil yang susah sekali untuk diam. Lukisan itu diselesaikan Affandi ketika Chairil wafat, dari CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) ia tidak ikut ke prosesi pemakaman Si Binatang Jalang tetapi pulang ke Taman Siswa untuk menyelesaikan gambar Chairil karena Affandi takut akan kehilangan ke-chairilannya Chairil jika lukisan itu tidak segera diselesaikan.

Beberapa waktu setelah Penyerahan Kedaulatan oleh Belanda dan Indonesia menjadi “Republik Indonesia Serikat” bulan Desember 1949, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Shantiniketan Art School, India.  (hlm.83) Tapi ia ditolak oleh Shantiniketanuniversitas seni yang didirikan oleh Rabindranath Tagore—setelah melihat karya-karya Affandi pihak universitas menganggap bahwa ia sudah bisa melukis. Uang beasiswa itu digunakan oleh Affandi keliling India dan Eropa untuk melukis dan pameran.

Sejak saat itu perjalanan Affandi dalam dunia melukis menjadi mudah.. Tapi pencapainya yang gilang-gemilang itu ia tidak mengubah sikapnya untuk tetap rendah hati.Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah gambar, ia sempat diangkat mengajar siswa-siswi di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI). Ia juga sempat mengembara ke Amerika Serikat untuk pameran dan melukis. Dalam pengembaraanya di Amerika itu ia diundang menjadi profesor di Ohio State University selama satu tahun. Begitulah mbak Juminten mengisahkan tentang pelukis Affandi.

Setelah membaca berulang kali naskah mbak Juminten, Agus diajak mengunjungi lagi museum Affandi. Kebetulan hari itu sang pelukis besar tersebut ada di rumah. Agus pun melihat lukisan-lukisan Affandi yang ada di dalam museum.Setelah puas melihat-lihat ia ngobrol dengan Affandi yang ternyata sudah akrab dengan paman dan mbak Jum. Affandi mendengar cita-cita agus yang juga ingin menjadi pelukis. Ia menasihati Agus untuk terus belajar dan tidak menyerah. Sosok yang konon rendah hati dan bergelar doktor (HC) itu telah disaksikan sendiri oleh Agus, semua yang telah Agus dengar dari penuturan guru dan pamannya dan dari yang ia baca dari naskah mbak Juminten bukan sekadar isapan jempol. Meminjam baris puisi Chairil lagi, Affandi adalah seorang pelukis yang menempati menara tinggi!