Hari-Hari Akhir Chairil Anwar

Judul buku: Hari-hari akhir Si Penyair
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun terbit: 1982

“Bangsat si Jassin, bangsat si Belanda itu! Nanti satu masa mereka akan tahu siapa Chairil Anwar.”

Hari-hari Terakhir si Penyair adalah memoar tentang Chairil Anwar yang ditulis oleh kawannya, Nasjah Djamin. Dengan meminjam ingatan Nasjah Djamin terhadap sosok Binatang Jalang ini, mitos-mitos yang melekat dengannya menjadi lebih kuat. Di samping itu, kita juga akan mengetahui bahwa hubungan antara seniman—pelukis /rupawan dengan penyair/penulis—kala itu sangat dekat. Buku ini dibagi menjadi dua bab: bab pertama menceritakan tentang kisah pertemuan Nasjah Djamin dengan Chairil, dan bab kedua mengenai hari-hari terakhir Chairil sebelum meninggal dunia.



Pada tahun 1947 Nasjah Djamin memutuskan merantau ke Ibukota Republik Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta, dari Medan bersama Daoed Joesoef dan Sam Soeharto untuk menempa dirinya ke dalam medan seni rupa di Seniman Indonesia Muda (SIM) dengan bimbingan S. Soedjono, Affandi, dan Soedarso. 

Ketika revolusi tengah bergerola itulah Nasjah Djamin bertemu dengan Chairil di SIM. Kharisma Chairil sempat membuat Nasjah terkagum. Ketika ia datang pertama kali, Chairil sedang bersama wartawati Belanda yang tengah mencari informasi tentang SIM. Saat itu, Chairil dengan fasih memberi penjelasan layaknya ensiklopedik berjalan, mulai latar belakang Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang didirikan pada tahun 1938, tentang Ide S. Soedjojono dalam mencari dan menemukan “Corak Indonesia Baru” seni lukis Indonesia yang  dilatarbelakangi oleh sikap antiakademiknya agar para pelukis menemukan coraknya masing-masing.

Waktu itu Nasjah tidak sadar bahwa yang ia jumpai adalah seorang tokoh yang dikaguminya, bahkan sempat memengaruhinya untuk menulis puisi semasa masih di Medan. Karena begitu penasaran ia bertanya siapa gerangan kharismatik itu kepada Zaini, Ia baru tahu bahwa sosok yang ia lihat seperti Ensikolopedi berjalan itu adalah Chairil lewat jawaban Zaini itu.  Selanjutnya, Chairil dan Nasjah Djamin baru bertemu kembali pada tahun 1948. Setelah Persetujuan Renville keduanya bertemu di Jakarta.

Ketika Perang Gerilya usai, Nasjah Djamin tidak pulang ke Yogyakarta tetapi turun ke Jakarta. Bersama A. Wakidjan ia bekerja sebagai koperator di Balai Pustaka di bawah redaktur, Idrus, Utuy, Achdiat K. Mihardja, Soleh Sastrawinata, Hasan Amin, Rusman Sutiamarga, Anas Ma’ruf, Baharudin (pelukis), dan lain-lain. Pemimpin redaktur Balai Pustaka saat itu adalah St. K. Pamuntjak. Ruangan redaksi/tipografi Balai Pustaka menjadi tempat berkumpul seniman Indonesia di Jakarta, dan juga sebagai ruang redaksi Mimbar Indonesia dengan redaktur, HB Jassin. Chairil sering singgah ke Balai Pustaka. Kedatangannya selalu meramaikan suasana. Kadang ia mendeklamasikan puisi barunya, mengejek Idrus yang nampak tak senang dengan dirinya, dan yang paling sering, meminjam uang kepada Baharudin untuk biaya suntik dan makan.

Taman Siswa asuhan Pak Said yang berletak di Jalan Garuda 25 menjadi tempat persinggahan ketiga bagi para seniman pada masa Chairil menjalang. Serangan angkatan udara Belanda terhadap ibukuota Indonesia Yogyakarta membuat Affandi mengungsi ke Jakarta dan tinggal di garasi Taman Siswa. Zaini, Soedarso, Basuki Resobowo pun menyusul. Di garasi itu pula para pelukis Yogyakarta membentuk organisasi Pelukis Indonesia. Kedekatan para seniman yang kala itu memiliki semangat yang sama, membuat garasi Taman Siswa beserta tempat tinggal Affandi menjadi tempat singgah para pengarang dan penyair Indonesia, seperti Sitor Situmorang yang setelah kalah besar di Medan sebab tidak bisa mendobrak orang-orang tua sastra di Medan untuk menyalurkan kesusastraan Indonesia Modern, dan sastrawan lainnya.

Perjumpaan Nasjah dengan Chairil melampaui perjumpaan fisik. Ia menceritakan bahwa Chairil adalah seorang ayah yang penyayang, dan suami yang hangat. Suatu kali Chairil pernah bercerita, jika ia menerima honorarium dari proyek bukunya Yang Terampas dan Yang Putus ia berencana untuk menikahi lagi bininya, Hapsah dan mengajaknya untuk berbulan madu ke Bali. Akan tetapi, seperti mitos-mitos yang menyelimuti para seniman yang lekat dengan citra bohemian, Chairil adalah orang yang tidak mau hidupnya statis apalagi teratur. Suatu kali ia pernah berkompromi dengan prinsipnya itu agar dapat memberi uang secara teratur kepada anak-istri. Ia bekerja sebagai redaktur di majalah Gema. Kerjanya itu hanya berjalan beberapa bulan dan ia tinggalkan. Keputusannya itulah salah satu sebab pertengkarannya dengan Hapsah.

Hari-hari Terakhir Si Penyair

Setelah menceritakan secara ringkas perjumpaannya dengan Chairil beserta sekelumit riwayat hidup si penyair, pada bagian kedua Nasjah Djamin menuliskan ingatan terakhir sebelum Chairil menemu ajal, menemu malam yang badai.

Suatu kali Chairil terlihat murung. Nasjah menghampirinya, tiba-tiba ia mengumpat, “Bangsat si Jassin, bangsat si Belanda itu! Nanti satu masa mereka akan tahu siapa Chairil Anwar.” Ternyata ia geram dengan Jassin setelah bogem si kritikus itu mampir padanya. Sebelumnya, Chairil bertengkar dengan Jassin karena ia meminta pertanggungjawaban Jassin atas puisinya. Saat Chairil datang meminta pertanggungjawaban tersebut, Jassin tengah menjadi jururawat teater di gedung Schouwburg (Gedung Kesenian). Kegeraman Jassin yang mungkin dilatarbelakangi oleh sikap Chairil yang tidak tahu tempat dan waktu itu membuatnya buntu dan melepaskan tinju.

Lalu, ia berencana menyusun antalogi puisi agar semua orang yang menurut Chairil ‘gak ngerti’ puisi itu dapat tahu mana puisi yang bagus dan mana yang tidak. Chairil meminta Nasjah Djamin untuk memberikan puisi-puisinya. Chairil pernah membaca sajak Nasjah Djamin yang pernah diterbitkan di majalah Seniman, Solo. Dan menurut Chairil, sajak Nasjah cukup bagus serta layak untuk diikutkan dalam proyek balas dendamnya.

Setelah kejadian tersebut, Nasjah cukup lama tidak bertemu lagi dengan Chairil. Tiba-tiba Chairil muncul kembali di bagian lay-out Baharudin. Ia mengeluhkan perutnya yang sakit. Seperti biasa, ia datang untung mengutang.

Sorenya, di garasi Affandi ia buang-buang air besar, perutnya terasa melilit, dan malam itu Chairil berulang kali keluar-masuk kamar kecil. Ia menjadi sangat lemas, tak berdaya. Pada kesempatan itu, ketika Chairil mulai bisa mengendalikan tubuhnya dan kembali pada rutinitas, Nasjah mengajaknya mengobrol mengenai para penyair atau penulis yang telah terputus dengan dunia seni rupa, kalaupun tahu itu hanyalah sekadar kebutuhan snobisme. Nasjah Djamin mengajak Chairil mendiskusikan hal tersebut karena keglisahannya melihat seorang pengarang besar yang mengomentari lukisan Affandi dengan gampang. Chairil berkomentar, “Pengarang-pengarang terlalu terpisah dari seni-seni lain,” ia melanjutkan, “Nanti sekali waktu, akan kutulis.”

Esoknya kondisi kesehatan Chairil semakin memburuk. Sam Soeharto menawarinya untuk istirahat di rumahnya. Garasi Affandi tidak cukup tenang untuk orang yang tengah sakit. Di rumah Sam Soeharto kondisi kesehatan Chairil tambah memburuk, ia terus-menerus berak darah, kadang-kadang muntah. Keesokan paginya Chairil dibawa ke CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis, sekarang disebut Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta). Sam Soeharto sempat marah-marah karena CBZ tidak menerima pasien pada dini hari padahal Chairil tengah sekarat. Seminggu setelah dirawat, pada tanggal 28 April 1949, lewat tengah hari, Sam Soeharto mengabarkan bahwa Chairil meninggal dunia. 

Pada upacara pemakamannya banyak orang yang turut mengantarkan Chairil ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Orang-orang Republik terkemuka turut menghadiri prosesi pemakaman si binatang jalang, termasuk om-nya, Sutan Syahrir. Akan tetapi, ada seorang yang memiliki kedekatan emosional dengan Chairil, tidak hadir. Ia adalah Affandi. Setelah pulang dari CBZ, Affandi memilih untuk membenamkan diri di hadapan lukisan Chairil. Ia bermaksud untuk memberikan sentuhan terakhir, sebab ia takut esok tidak akan bisa menemukan lagi ke”chairilan”nya Chairil.

Sam Soeharto, menjadi “ahliwaris” tak resmi benda peninggalan Chairil yang tak seberapa yang berupa manuskrip puisi. Ia memutuskan untuk menerbitkan atau menjual puisi-puisi terakhir Chairil itu, yang belum sempat dipublikasikan pada penerbit atau majalah. Sam Soeharto saat itu butuh uang. Ia pun memiliki pembenaran atas perbuatan nya itu, ia menyebut bahwa ahli waris Chairil bersikap tak acuh sehingga tidak masalah jika ia memanfaatkan itu.

Puisi-puisi Chairil dari tangan Sam yang akan diterbitkan di majalah Indonesia itu dilengkapi vignet-vignet S. Soedjojono. Tapi sayang, puisi-puisi yang dikira karya terakhir Chairil Anwar itu bukan ditulis Chairil. Puisi-puisi tersebut adalah karya S.K Mulyadi. Kecelakaan tersebut terjadi karena Chairil meminta puisi-puisi Mulyadi untuk dimasukkan dalam proyeknya yang disebut di atas, yang untuk membalas dendam kepada orang-orang tak tahu puisi, seperti yang ia tawarkan juga kepada Nasjah Djamin. Chairil punya kebiasaan tidak memberi nama pada catatan puisi-puisinya, pun terhadap puisi orang lain yang tengah disuntingnya. 

Di acara pameran Pelukis Indonesia di Taman Siswa, S. Soedjojono marah besar. Semua orang menjadi tegang karena waktu itu Sam Soeharto juga menunjukkan hidunya. Soedjojono tidak terima, ia menganggap Sam telah menipunya. Soedjojono di penghabisan marahnya itu mengatakan bahwa ia hanya mau menggarap vignet untuk puisi-puisi Chairil, tetapi kenyataan vignetnya tetap dicetak di majalah Indonesia dengan puisi-puisi S. K. Mulyadi.

Tak lama setelah Chairil meninggal, buku-buku kumpulan puisinya terbit: Deru Campur Debu, Kerikil Tajam, Yang Terampas dan Yang Putus. Dan orang yang dulu pernah menghukum Chairil sebagai perusak bahasa Indonesia, menulis buku pelajaran kesusastraan yang membicarakan Angkatan ’45 dengan Chairil sebagai pelopornya. Buku-buku itu pun laris. Nasjah yang menjadi saksi bagaimana Chairil tidak sanggup menebus obat karena tidak punya uang itu berandai-andai, bila semasa hidup buku-bukunya Chairil dapat diterbitkan, kemungkinan besar dia dapat ke dokter dan tidak akan kasip.

Buku yang tidak terlalu tebal ini kurang-lebih merangkum kehidupan dan tingkah Chairil beserta latar belakang sosial para seniman pada waktu itu. Sedikit banyak kita dapat mengetahui sifat atau kepribadian para pegiat seni yang hidup di masa Chairil. Sebagai sahabat Nasjah menyelesaikan tugasnya, dan mangkatnya Chairil menjadi sebuah kepergian yang tuntas.

0 comments:

Post a Comment